Ekaristi Kudus dan Yesus Kristus yang Mengasihi Sampai Akhir Hidupnya

KBRN, Jakarta : Katedral Agung Jakarta menggelar Ekaristi atau Kamis Putih, ibadah sebelum Jumat Agung, dipimpin Kardinal Iqnatius Suharyo, Kamis (9/4/2020) malam.

Bertepatan dengan darurat nasional wabah virus Corona, walau tak dihadiri umat dan hanya disiarkan secara live dalam format streaming youtube, salah satunya melalui tayangan langsung platform RRI NET, tapi Ekaristi dan Perjamuan Agung berlangsung khidmat sarat makna.

Dalam perjamuan kudus tadi malam, diambil sehelai roti tanpa ragi dan secawan anggur. Roti tanpa ragi dipecahkan dan dimakan, sementara anggur di dalam cawan diminum seteguk.

Roti tanpa ragi yang dipecahkan merupakan peringatan akan tubuh Yesus Kristus yang disiksa karena dosa umat manusia. Sedangkan seteguk anggur adalah peringatan akan darah Kristus yang tumpah untuk kemudian mati menebus dosa manusia.

Memakan roti tanpa ragi dan seteguk anggur yang diminum nantinya menjadi sebuah simbol kuat bahwa manusia menyatu dengan Kristus dalam penderitaan, ikut merasakan pedihnya sebuah siksa penebusan itu.

Tata cara ini diajarkan oleh Yesus sendiri kepada 12 muridnya pada malam sebelum ia ditangkap oleh tentara Romawi akibat fitnah para imam Yerusalem terhadap dia.

Dalam pembacaan Alkitab dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (I Korintus 11:23-26), dituturkan oleh Rasul Paulus ketika Yesus mengadakan perjamuan terakhir buat ke-12 muridnya, seheari sebelum penyiksaan yang akan menimpanya. 

Saat itu, Yesus sempat membasuh kaki kedua belas muridnya tersebut. Lewat pembasuhan kaki, Yesus coba mengajarkan bahwa jalan menuju kesempurnaan hidup sebagai manusia adalah jalan kepedulian, yang nantinya berujung pada kerelaan berbagi kehidupan dalam berbagai macam bentuk.

Dengan membasuh kaki murid-muridnya, Yesus menekankan Ia peduli akan sesamanya tanpa memandang kasta maupun tingkatan tertentu. Ia melayani sesamanya dengan tulus walau harus turun ke tempat terendah sekalipun. Walau harus merasakan penderitaan yang sama, seseorang harus menunjukkan kepedulian hati terhadap sesamanya tanpa keraguan.

Kemudian, setelah membasuh kaki para murid, Yesus mengadakan perjamuan roti tanpa ragi beserta anggur. Dia memerintahkan kepada semua muridnya malam itu, untuk melakukan tata cara perjamuan itu untuk mengenang akan semua penderitaan yang nantinya akan diberikan-Nya kepada umat manusia.

Yesus memecah roti tanpa ragi dan membagikan rata kepada 12 muridnya. Roti adalah lambang tubuh Yesus sendiri, yang nantinya akan tercabik-cabik oleh manusia. Kemudian anggur menjadi simbol darah Yesus yang tumpah untuk mati di tangan orang-orang yang akan membunuhnya kelak.

Dan setelah malam terakhir Yesus bersama para murid atau diperingati sebagai Kamis Putih, keesokan harinya, Yesus ditangkap oleh tentara Romawi dan para imam Yahudi kota Yerusalem. 

Para imam tersebut tidak senang dengan semua mukjizat yang dibuat Yesus, dari memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ekor ikan. Kemudian membangkitkan orang mati, mengusir roh jahat dari tubuh manusia, menyembuhkan orang sakit kusta, serta masih banyak lagi mukjizat lain yang dimaknai para imam Yahudi sebagai ancaman untuk mereka.

Hari itu juga, pada hari Jumat, Yesus diadili tanpa pembelaan dari siapapun. Ia dijatuhi hukuman mati dengan cara disalibkan. Yesus ditelanjangi di depan orang banyak, ia dihukum cambuk dengan pecut bermata tiga, yang akhirnya merobek semua kulit dan daging tubuhnya.

Mahkota duri ditancapkan ke atas kepala, hingga darah mengucur deras membasuh tubuhnya. Lantas ia disuruh memanggul kayu salib miliknya hingga ke atas bukit Golgota atau sampai sekarang dikenal dengan bukit Tengkorak.

Jika orang lain disalib dengan tangan dan kaki terikat, di atas bukit Golgota Yesus disalibkan dengan tangan dan kaki dipaku. Setelah tidak kuat dengan semua penderitaannya, Yesus merasa saatnya sudah tiba. Dia kemudian berteriak nyaring ke udara, menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah.

Dengan mati di kayu salib, Yesus telah menunjukkan kepada semua murid-Nya, bahwa Dia mengasihi sampai akhir, mengasihi sampai sehabis-habisnya. Belas kasih Yesus tidak tanggung-tanggung, Ia rela wafat di kayu salib untuk keselamatan manusia.

"Malam ini, Kamis Putih, mengenang peristiwa Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir menjelang sengsaranya. Dia membasuh kaki murid-muridnya. Ia siap menyatakan kasihnya sampai sehabis-habisnya. Itulah yang dikenang dalam sakramen ekaristi. Lakukanlah ini (perjamuan kudus), untuk mengenangkan Aku, demikian firman Tuhan," tutup Kardinal Ingasius Suharyo.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00