Buruh Perempuan Tetap Bekerja di Pabrik, Sulit Dampingi Anak Belajar dari Rumah

KBRN, Jakarta: Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik-FBLP Jumisih mengungkapkan kebijakan pemerintah untuk Work From Home (kerja di rumah) ternyata tidak berlaku bagi buruh industri padat karya.

Ribuan buruh industri padat karya masih harus masuk ke pabrik untuk bekerja berhimpitan dengan buruh yang lain. 

"Hal ini memprihatinkan sekali bagi buruh industri padat karya," kata Jumisih kepada rri.co.id, Selasa (7/4/2020). 

Jumisih menjelaskan bagi buruh perempuan yang memiliki anak, beban itu makin bertambah, karena selain bekerja di pabrik, buruh perempuan juga harus memikirkan mendampingi putra-putrinya untuk belajar di rumah (sekolah online) karena sekolah juga tidak beroperasi. 

"Hal ini membuat buruh perempuan memutar otak dan memeras tenaga lebih," ungkapnya. 

Selain itu, lanjutnya mereka juga punya kekhawatiran lebih karena putra-putrinya tidak ada yang mendampingi, di saat sang ibu di pabrik. Hal ini berpotensi untuk mengurangi hak anak mendapat perhatian serta rawan terhadap keamanan. 

"Jika buruh Ibu memilih tidak masuk bekerja demi mendampingi anak, hal ini berkonsekwensi buruh ibu kehilangan upah dan pekerjaan. Artinya keberlanjutan isi perut akan terganggu," terangnya.

Menurut Jumisih sejumlah kebijakan pemerintah, baik itu Keppres No.11/2020, Perpu no.1/2020, PP No.21/2020, termasuk Surat Edaran Menaker No.M/3/HK.04/III/2020 belum menjangkau hal-hal detail ini, supaya hak anak terpenuhi, hak ibu pun terpenuhi atas upah dan keberlanjutan kerja.

Oleh karena itu, kami menuntut pemerintah, untuk tidak melakukan praktek diskriminasi atas buruh industri padat karya. 

"Pada saat putra-putri belajar di rumah, maka orangtua selayaknya di rumah juga dengan jaminan upah, keberlanjutan kerja dan Tunjangan Hari Raya (THR)," pungkasnya. (Foto: Instagram/storypabrik)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00