Darurat Covid-19 : Guru Honorer Tidak Digaji, Transport Diganti Pulsa

KBRN, Jakarta : Semua orang berteriak, minta subsidi dan lain sebagainya saat darurat Corona Virus Disease 2019 atau disngkat Covid-19. Tapi pernahkah terpikirkan, bagaimana keadaan guru honorer sekarang ini di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)? Padahal sebelum ada wabah ini, segala nasib dan masa depan mereka selalu diperbincangkan.

Mari tengok sejenak bagaimana keadaan mereka di tengah keadaan darurat nasional seperti saat ini. Kala kegiatan belajar mengajar terhenti dan semua harus berada di rumah. Yang jelas, tidaklah mudah. Tapi tetap dijalani.

Untuk wilayah Jakarta, guru honorer banyak menyebar di sekolah negeri maupun swasta. Bagi yang kebetulan dapat di sekolah besar, pastinya cukup baik walaupun memang tetap sulit bila membayangkan masa depan. Lalu bagaimana dengan yang mengajar di sekolah yang masuk kategori sedang-sedang saja, bahkan kecil?

Sebutlah RYT (inisial asli), dia adalah lulusan sebuah akademi komputer cukup merakyat di Ibu Kota. Setelah berkeluarga, dia sempat malang melintang bekerja di berbagai tempat, sebelum akhirnya memenuhi panggilan jiwa menjadi seorang guru. Ia memulainya di sebuah sekolah swasta mungil di kawasan Koja, Jakarta Utara.

Pertama kali masuk, RYT langsung diberikan tanggung jawab mengajar tiga mata pelajaran (mapel), empat hari mengajar dalam sepekan, dengan poerhitungan Rp 30 ribu per jam. Honor yang diterimanya sebesar Rp 600 ribu dalam satu bulan mengajar. 

Lama kelamaan, seiring berjalannya waktu, ternyata ada penurunan. Dia hanya diberikan tugas mengajar dua mapel, 14 jam dalam satu bulan, sehingga honornya mengalami penurunan signifikan menjadi Rp 420 ribu.

Begitu seterusnya pendapatan RYT sebagai guru honorer di sekolah tersebut. Namun dia tidak mengeluh, karena inilah pilihan jiwanya selama ini dan menjadi tenaga pengajar atau seorang guru merupakan profesi yang paling diidamkannya sejak remaja.

Melihat kerajinan RYT, pihak manajemen sekolah membulatkan gajinya menjadi Rp 500 ribu per bulan. Walaupun selisih Rp 100 ribu dari gaji di bulan-bulan awalnya mengajar (Rp 600 ribu), tapi dari Rp 420 ribu naik Rp 80 ribu menjadi Rp 500 ribu tetap dianggap RYT sebuah kenaikan gaji yang harus disyukuri oleh seorang guru.

"Paling lambat tanggal 10 sudah terima honor mas," ucap RYT kepada RRI, Jumat (3/4/2020).

Kemudian, sebut saja YNT (inisial asli), yang juga lulusan sebuah akademi komputer di Jakarta. Dia mengajar di sebuah sekolah swasta yang lumayan besar, masih di kawasan Koja, Jakarta Utara. Menjadi guru adalah panggilan hati, sehingga walau mengetahui situasi nasib guru honorer di Indonesia, TNT tak peduli, ia maju terus mewujudkan cita-cita mulia tersebut.

Sejak awal masuk di sekolah tempatnya mengajar itu, YNT diserahi tanggung jawab mengajar satu mapel, di dua kelas berbeda, dengan total mengajar 12 jam dalam satu bulan. Upah mengajar per satu jam Rp 30 ribu, sehingga hitungan satu bulan YNT Rp 360 ribu ditambah Rp 360 ribu transport, sehingga take home pay setiap bulan Rp 720 ribu.

"Honor dibayarkan paling lambat tanggal 20 setiap bulannya," kata YNT.

Nah, begitulah keadaan penghasilan guru honorer wilayah Jakarta Utara, sebelum Indonesia diterjang badai Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19. Lantas bagaimana sekarang ketika situasi sudah ditetapkan darurat nasional virus Corona?

"Karena ada kebijakan 'belajar di rumah', otomatis murid tidak masuk dan diganti belajar dari rumah. Guru juga tidak masuk sekolah, diganti kegiatan mengajar murid dari rumah. Dan karena murid tidak masuk untuk lebih kurang sebulan ke depan, manajemen sudah memberitahukan, pemilik sekolah tidak bisa menggaji kami karena murid-murid pastinya tidak ditarik uang sekolah saat 'belajar di rumah' seperti ini," terang RYT.

Tapi ia mengakui sejujurnya, tidak masalah dengan keadaan tersebut. Ini adalah jalan yang dipilihnya. Sehingga harus dijalani dengan tegar dan iklas.

"Musibah pasti berlalu. Dan saat sudah lewat, kebahagiaan itu akan datang kembali kepada kita semua. Saya tetap memberi program 'belajar di rumah' buat semua murid. Kebetulan suami juga mengiklaskan. Menurutnya jadi guru itu bagian dari ibadah," ucapnya menambahkan.

Lebih beruntung dari RYT yang harus kehilangan honor selama darurat Covid-19, YNT masih tetap mendapatkan upah mengajar sebesar Rp 360 ribu. Namun uang transport dihilangkan karena dengan adanya kebijakan social distancing, guru mengajar siswanya dari rumah saja secara online.

"Gaji pokok Rp 360 ribu tetap saya terima, cuma uang transport Rp 360 ribu saja dihapus selama program 'belajar di rumah'. Tapi uang transport yang hilang itu diganti uang quota internet sebesar Rp 100 ribu. Alhamdulillah," terang YNT.

Keadaan ini juga sempat dikomunikasikan YNT kepada suaminya. Namun sang pendamping hidupnya itu mendukung saja apapun keputusan sang isteri. Karena ini wabah Internasional, jadi memang harus dimaklumi. Selain itu, menjadi guru adalah pilihan isterinya itu, jadi apapun resikonya harus dihadapi alias jangan menyerah di tengah jalan. (Foto Ilustrasi: Ant/Oky Lukmansyah) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00