Gula Pasir Kosong Sepekan Ini, Gula Merah dan Kental Manis Jadi Pilihan

KBRN, Jakarta : Yuli adalah Ibu Rumah Tangga dengan tiga anak, yang tertua sudah Sekolah Menengah Kejuruan. Berikutnya masih Sekolah Menengah Pertama, dan yang bungsu berusia tujuh tahun, duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas I.

Menghadapi darurat bencana nasional Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19, Yuli bersama suaminya, Eddy, beserta tiga anak mereka dan orang tua yang tinggal di rumah, tetap bertahan walaupun harus memangkas menu makanan mereka sehari-hari.

Dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) metode social distancing yang diterapkan pemerintah Indonesia, Yuli harus merelakan gajinya sebagai guru honorer terpangkas karena arahan Work From Home (WFH). Sementara sang suami, harus merelakan pekerjaan sehari-harinya sebagai driver ojek online (ojol) terhenti sementara akibat takut terkena virus Corona.

Agar kehidupan terus bertahan, keluarga ini memangkas menu makanan dari lauk ikan menjadi tahu, sayuran diganti telur dan mi instan, sampai jajanan anak bungsunya diganti buatan sendiri yakni puding coklat dan es lilin. Ini supaya sang anak betah di rumah, jadi dibuatlah sehat dengan bentuk (cetakan) yang lucu-lucu, ditambah es lilin yang segar buat menemani si anak bungsu nonton televisi setiap hari.

"Ini buat menjaga keuangan keluarga juga. Anak-anak yang sudah besar mereka mengerti keadaan, tapi yang kecil kan butuh distract. Maksudnya supaya tidak minta uang jajan, saya buatkan puding pakai cetakan yang lucu-lucu sama es lilin," ujar Yuli kepada RRI, Jumat (3/4/2020).

Lantas untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka sehari-hari selama tinggal di rumah saat darurat wabah Covid-19, sejauh ini apa yang dicari di pasar tradisional seperti mi instan, telur, minyak goreng, beras, susu, kecap, saus tomat, cabai, sosis curah, hingga bahan puding coklat swallow masih aman tersedia alias mudah dicari.

BACA JUGA: Pangkas Menu Makan, Keluarga Ini Berjuang Hadapi Darurat Covid-19

Namun begitu, ternyata tidak semua bisa dicari dengan mudah. Ada satu komoditas yang kosong baik di pasar tradisional maupun minimarket waralaba di dekat tempat tinggalnya di kawasan permukiman padat Gang Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara. Gula pasir!

"Sudah satu pekan ini gula pasir kosong di pasar maupun minimarket," kata Yuli.

Dirinya lanjut menuturkan, gula curah dan gula kemasan yang biasa dibelinya dengan harga pasaran Rp 12.500 sampai Rp 13.000 per kilogram, sekarang kosong. 

"Bahkan gula pasir merek gulaku, sekarang di pasaran harganya Rp 20.000 per kilogram. Tapi kosong, gak ada barang. Jadi saya akalin pakai gula merah dan kental manis kalengan buat di rumah. Sensasi dikit minum kopi pakai gula merah," tambah Yuli berkelakar.

Selain gula pasir, ternyata ada satu lagi keperluan rumah tangga yang kosong atau kadang langka di pasaran, yakni sabun cair. Namun Yuli memahami, ini pasti karena situasi darurat Covid-19, sehingga produk sabun cair banyak dicari orang.

Mengakali ini, Yuli membeli sabun kotak biasa namun yang ada antiseptik itu. Sebenarnya tidak kosong semuanya, masih ada sabun dengan merek familiar seperti biasanya, namun tidak ada kandungan antiseptik. 

"Tapi kan sekarang kami cari yang antiseptik, supaya badan orang rumah semuanya bersih dari kuman dan virus-virus itu," sambungnya singkat.

Lalu bagaimana harapan Yuli ke depannya nanti?

"Saya sih berharap darurat wabah ini segera berakhir. Kami tidak bisa memastikan sampai kapan bertahan seperti ini, karena sudah mengetatkan ikat pinggang di sini. Ikan ganti tahu dan sayur diganti telur tambah mi instan. Jadi harapan kami, bencana ini cepat berlalu dari Indonesia, supaya kehidupan bisa berjalan lagi seperti sediakala. Saya tidak pikir bagaimana saya dan suami bisa makan, tapi anak-anak sekarang yang ada di pikiran kami berdua, serta orang tua yang tinggal bersama kami," tandasnya. (Foto Ilustrasi stok gula pasir curah/Ant/Fauzan)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00