Polisi Amankan Raja dan Ratu Kerajaan Keraton Agung Sejagat

KBRN, Jakarta : Totok Santoso Hadiningrat dan Dyah Gitarja suami istri yang menggemparkan menjadi raja dan ratu Kerajaan Agung Sejagat diamankan.

Itu setelah klaimnya untuk menguasai dunia membuat resah warga Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah.

Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong dan Dandim 0708 / Purworejo, Letkol Inf Muchlis Gasim membenarkan Totok dan Dyah tersebut tengah diamankan. 

"Jadi berdasar keluhan warga sekitar mereka banyak yang resah atas keberadaan Kerajaan Agung Sejagat ini. Untuk menjaga situasi dan kondisi, raja dan ratunya diamankan dan aktivitas di kerajaannya dihentikan alias disegel," terangnya seperti dilansir SuaraJogja.id, Selasa (14/1/2020) petang. 

"Iya saat ini mereka kami amankan untuk menjaga kondisi di Pogung menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ungkap Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong terpisah.

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah, disebut hanya lelucon dagelan tanpa histori dan garis keturunan raja-raja Nusantara. Keraton Agung Sejagat tidak akan masuk dalam Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) yang beranggotakan kerajaan atau kesultanan di Indonesia. 

"Kerajaan yang masuk MAKN harus memiliki histori dan genetik dengan raja-raja Nusantara," ungkap Ketua Harian Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) KPH Eddy Wirabhumi kepada wartawan, Senin (13/1/2020) malam. 

BACA JUGA: Majelis Kerajaan Nusantara : Keraton Agung Sejadat Itu Humor Belaka

Kanjeng Eddy mengatakan, karena tidak adanya silsilah dengan raja-raja Nusantara, dengan demikian Raja Kerajaan Agung Sejagat tidak akan masuk dalam perserikatan raja-raja yang mempunyai kerajaan, kesultanan atau kedatuan. Dalam aturan baku MAKN yang menjadi anggota adalah raja, sultan, panglingsir (di Bali), atau pemangku adat dari seluruh Nusantara yang punya basis histori masa lalu. 

"Karena basisnya adat dan tradisi, anggota MAKN sesuai adat dan tradisi, yang berkembang di setiap daerah. Namun bagi yang sama sekali tidak punya madzab dan silsilah lalu membuat sesuatu atau kerajaan baru itu dagelan," kelakarnya.

Menantu Raja Keraton Surakarta Mendiang PB XII ini mengatakan, MAKN tidak akan mengakui Keraton Agung Sejagat, terlebih menjadikan aggota. Mengingat kondisi tersebut berbeda dengan MAKN yang memiliki peran masa kini dan masa datang kerajaan. 

Sesuai dengan basis sains dan riset serta keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai akademis. 

"Yang saya denger sendiri komentar masyarakat sekitar, dulu ada kerajaan. Tapi kerajaan jin itu," kata Eddy Wirabhumi.

Eddy Wirabhumi mengatakan, keberadaan keraton tersebut tidak perlu diperbincangkan lebih lanjut, karena hanya akan membuang energi. Menurutnya, yang disampaikan berbau mistis dan tidak masuk akal sehingga masyarakat sebaiknya mengabaikan.

"Mungkin lebih pas dengan kerajaan Jin seperti yang disampaikan masyarakat sekitar," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00