Sejak 1997 Didorong Mendunia, Baru 2019 Pencak Silat Diakui UNESCO

KBRN, Jakarta : United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage ke 14 yang berlangsung di Bogota, Kolombia, 9-14 Desember 2019.

Informasi penetapan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda dipublikasikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui akun Instagram (IG) Direktorat Warisan Diplomasi Budaya, Jumat (13/12/2019) dini hari.

Melansir Antaranews, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Prof Surya Rosa Putra, mengatakan, tepat pukul 10.00 waktu Bogota, Kolombia, Kamis, 12 Desember 2019, Pencak Silat resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia Tak Benda UNESCO.

Tradisi pencak silat dinilai tak hanya sekadar bela diri, tetapi juga bagian dari jalan hidup pelakunya. Dalam pencak silat, diajarkan bagaimana menjalin hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. Sebagai ilmu bela diri, pencak silat juga tak hanya mengajarkan teknik serangan, termasuk di dalamnya bagaimana menahan diri dan menjaga keharmonisan. 

Berawal dari tradisi di Sumatera Barat dan Jawa Barat, pencak silat berkembang ke seluruh wilayah Indonesia. Tradisi itu berupa lisan, pertunjukan, ritual festival, kerajinan tradisional, pengetahuan, praktik sosial dan kearifan lokal. Pencak silat dikenal berbagai generasi dan dikreasi dengan keunikan masing-masing. Dengan semua elemen tersebut membuat pencak silat layak dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda.

Indonesia berkomitmen kelestarian pencak silat tak hanya fokus pada aspek olah raga/bela diri, tetapi juga menjadi bagian dari kurikulum seni dan budaya. Kini, pencak silat telah dipromosikan ke banyak negara. Berbagai komunitas perguruan dan festival pencak silat juga banyak digelar. Pada Februari 2020, Duta Besar RI untuk Kolombia, Priyo Iswanto, bersama Kementerian Olahraga Kolombia akan mengadakan forum eksibisi untuk memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat Kolombia. 

Dengan ditetapkannya pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Indonesia kini memiliki 9 situs warisan budaya dan alam, serta 15 cagar biosfer Indonesia. Melansir dari situs Kemendikbud, pembahasan untuk mengakui pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda ini sudah dilakukan sejak awal 2018. Sementara upaya pengajuan ke UNESCO telah dilakukan sejak Maret 2017. Pengajuan ini dilakukan mengingat pencak silat memenuhi syarat dan memiliki keunikan yang tidak dimiliki bela diri lain.

Tak banyak yang menyadari, Indonesia sebenarnya sudah berkomitmen memajukan Pencak Silat sejak era pemerintahan Presiden Ke-2 RI, Soeharto. Ibu Negara kala itu, Siti Fatimah Suhartinah Soeharto atau karib disapa Tien Soeharto memiliki konsep sentralisasi pembinaan pencak silat, kemudian menghibahkan tanah seluas 53.656 meter persegi untuk pembangunan Padepokan Pencak Silat Indonesia yang berada di Jalan Raya Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, tepat bersebelahan dengan kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Padepokan Pencak Silat Indonesia diresmikan Presiden Soeharto pada 20 April 1997. Di dalam museum terdapat sejarah pencak silat mulai awal ditemukan berdasarkan kajian mendalam sejak zaman prasejarah sampai perkembangan pencak silat menembus dunia Internasional. Untuk mempromosikan pencak silat, museum di Padepokan Pencak Silat Indonesia mencatat terbentuknya PERSILAT atau Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa yang diinisiasi Indonesia.

Bahkan hingga kini, Padepokan Pencak Silat Indonesia yang dilengkapi mess bagi atlet, selalu menjadi tempat atau kawah candradimuka latihan persiapan atlet-atlet pencak silat Indonesia guna mempersiapkan diri menghadapi event-event Internasional semisal kejuaraan dunia, Asian Games, sampai SEA Games. 

(Sumber: Antara/Cendananews2016 / Foto: Pesilat menampilkan jurus saat acara festival pencak silat di Cinere, Depok, Jawa Barat (2/11/2019) by Antara)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00