Mensos Minta Murid Sekolah Rakyat Diawasi 24 Jam

  • 03 Sep 2026 02:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mensos Saifullah Yusuf meminta pengawasan siswa Sekolah Rakyat dilakukan selama 24 jam
  • Pengawasan ditujukan mencegah bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi di sekolah berasrama
  • Kepala sekolah diminta melibatkan wali asuh, wali asrama, serta memanfaatkan CCTV
  • Pengelolaan Sekolah Rakyat harus mengedepankan kepatuhan prosedur dan tata kelola
  • Tiga pilar Sekolah Rakyat yang ditekankan yakni pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Sosial Saifullah Yusuf meminta seluruh kepala Sekolah Rakyat mengawasi murid selama 24 jam secara penuh. Langkah tegas ini berguna mencegah aksi bullying, kekerasan seksual, maupun intoleransi di lingkungan sekolah berasrama.

Instruksi penting itu disampaikan dalam rapat koordinasi nasional bersama kepala sekolah pada Rabu, 2 September 2026. Pertemuan secara daring melalui Zoom tersebut menegaskan karakter boarding school yang membutuhkan pengawasan ketat tanpa kompromi.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menekankan pentingnya pengawasan penuh di sekolah. Kepala sekolah diminta melibatkan wali asuh serta wali asrama dan memanfaatkan fasilitas Closed Circuit Television (CCTV).

"Yang pertama yang ingin jadi perhatian kita bersama adalah soal pengawasan. Karena ini boarding school, maka anak-anak harus terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi," kata Gus Ipul.

Selain pengawasan ketat, ia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap seluruh prosedur maupun tata kelola Sekolah Rakyat. Pengelolaan keuangan harus bebas korupsi, tanpa konflik kepentingan, serta memiliki standar belajar dan asrama setara.

"Sekolah Rakyat berjalan karena kita bergerak bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap," ucap Gus Ipul.

Gus Ipul juga meminta keterlibatan pemerintah daerah (pemda) dalam memperkuat dukungan keamanan maupun kebersihan lingkungan. Mulai bulan depan, kepala sekolah wajib membuat laporan kondisi kesehatan, perkembangan mental, serta latar belakang siswa.

"Ini saya titipkan betul kepada para kepala sekolah. Intinya adalah pada pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi," ucapnya.

Ia memberikan waktu satu hingga tiga bulan bagi seluruh kepala sekolah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain itu, ia turut menyoroti penanganan Sekolah Rakyat yang berada di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 1 Kotawaringin Timur Nikkon Bhastari menegaskan siswa tidak dipulangkan akibat dampak asap. Gedung permanen sekolah di Kalimantan Tengah tersebut berada sangat dekat dengan titik lokasi kebakaran hutan dan lahan.

"Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan karena lebih berbahaya ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, fasilitas kami lengkap," ucapnya.

Nikkon menyatakan keberadaan fasilitas medis pendukung membuat para siswa merasa jauh lebih aman berada di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan pada pukul delapan hingga pukul sembilan pagi meski ruang kelas terdampak asap.

"Oksigen ada, masker kami sudah terpenuhi, nebulizer juga sudah siap," katanya.

Pembelajaran dipindahkan ke gedung asrama dengan bantuan para guru ketika ruang kelas tidak dapat digunakan akibat kabut. Pihak sekolah berkoordinasi secara aktif dengan pemerintah daerah demi memastikan keselamatan seluruh siswa selama kabut berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....