Menyambung Asa Dengan Rakit dan Sampan Menuju Sekolah

Foto Pelajar dari Desa Sipot menuju sekolah/ Dok RRI Meulaboh.jpeg
Anak-anak MIN 14 Aceh Barat bersama seorang gurunya menyeberang sungai ke sekolah/ Dok RRI Meulaboh.jpeg

Tophografi wilayah yang dipisahkan aliran sungai, itulah persoalan kampung kelahiran Rasniyanti, penduduk desa mereka tidak ada yang sekolah Taman Kanak-Kanak dan hampir rata-rata tamatan tingkat Sekolah Dasar.

Hingga di penghujung tahun 2021 ini, setiap hari Rasniyanti membawa 20 murid sekolah untuk bisa menaiki rakit menuju sekolah.

“..Selain MIN 14, ada sekolah lain seperti SD tetapi semuanya harus menyeberang juga ke daratan, ada tiga desa lain tetangga, di seberang sungai juga. Desa Sipot inikan dikelilingi oleh sungai," tuturnya lagi.

Tanpa tali pengikat dan tempat berpegang, rakit berlantai papan berukuran 2x3 meter persegi itupun berlayar lepas mengarungi sungai sekitar 10-15 menit hingga tiba di seberang.

Pukul 7 lewat 40 pagi, anak-anak turun dari rakit saling bergantian melompat ke daratan, saat mendarat percikan air sungai terkadang membasahi seragam teman-temannya. Itu menjadi hiburan mereka tertawa ria.

Murid-murid dengan umur 7 sampai 12 tahun berjalan kaki menuju sekolah terpaut sekitar 300 meter dari tepi sungai. Hingga jam 8 pagi bel tanda masuk sekolah berbunyi, mereka tiba di sekolah dan hari itu mereka langsung masuk ruang kelas.

Cita cita murid-murid di sekolah ini begitu besar, hendak menjadi TNI, Polisi, Dokter, ada juga yang berkeinginan menjadi seorang dai kondang dan menjadi seorang pengusaha yang sukses.

Sarana dan fasilitas di sekolah berjarak sekitar 95 kilometer dari Meulaboh, ibu kota kabupaten itu, sudah tersedia, malahan sekolah ini tidak luput mendapat prestasi.

Semangat murid di sana menggapai harapan, telah dibuktikan, terdapat beberapa tropi dan piagam penghargaan telah dipajangkan di sekolah itu.

Tetapi karena letak sekolah ini tidak jauh dari sungai, pernah ditenggelamkan banjir luapan dengan ketinggian sampai 2 meter tahun 2018 lalu.

Pak Adi, tenaga kependidikan di sekolah yang menanti murid kelas 6 pun menunggu di pintu ruang kelas, absen mulai berjalan namun sang murid dari seberang sungai tidak kunjung tiba di sekolah.

Jika mereka tidak datang, maka yang pertama dicari tahu, bagaimana kondisi air sungai, jika deras setelah diguyur hujan maka mereka mendapat izin.

Selanjutnya : Pengantar

Halaman 2 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar