Menyambung Asa Dengan Rakit dan Sampan Menuju Sekolah

Foto Pelajar dari Desa Sipot menuju sekolah/ Dok RRI Meulaboh.jpeg
Anak-anak MIN 14 Aceh Barat bersama seorang gurunya menyeberang sungai ke sekolah/ Dok RRI Meulaboh.jpeg

KBRN, Meulaboh: Kondisi pendidikan di Indonesia masih diwarnai dengan ketimpangan di daerah pedalaman jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan. 

Di daerah terpencil di pelosok Tanah Air masih banyak dijumpai kondisi dunia pendidikan yang memprihatinkan, karena pelajar belum terlayani dengan sarana yang layak.

Sudah puluhan tahun anak-anak yang tinggal di Desa Sipot, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat harus berjuang mati-matian menuntut ilmu, menyeberang sungai untuk menuju ke sekolah.

Saat hujan mengguyur wilayah hulu, air sungai keruh, mereka hanya terduduk diseberang sungai menatap ke depan melihat derasnya air. Mereka Pun kembali ke rumah melepas seragam sekolah.

Sampan dan rakit terbuat dari papan dan fiber adalah transportasi massal yang digunakan setiap hari oleh masyarakat dan anak-anak untuk menuju ke Desa Paya Baroe, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat.

Terkadang armada tanpa atap dan pengaman yang ditumpangi anak-anak sekolah ini hanyut terbawa arus sungai.

Sampan yang didayung sendiri pun kadang juga terbalik sehingga baju seragam mereka basah kuyup. Kata Rasniati, warga Desa Sipot, kini menjadi seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 14 Aceh Barat.

“..Rakit baru 2 tahun dibuat orangtua kami untuk anak-anak ke sekolah. Sebelumnya naik sampan untuk menyeberang sungai agar bisa ke sekolah, bahkan kami dulu pernah ada yang tenggelam," ucapnya 24 November 2021.

Ia adalah alumni angkatan tahun 2000 MIN 14 Aceh Barat, sejak dibangku kelas 1 hingga  tamat sekolah, ia telah merasakan betapa sulitnya menempuh pendidikan di daerah pedalaman setempat.

Dan kini Rasniyanti mengajar di sekolah itu, mendedikasikan diri/ membantu anak-anak di Desa Siput menimba ilmu pengetahuan mewujudkan cita-cita mereka.

Desa Sipot, berada di pelosok, desa ini berada paling ujung dan terpisah oleh sungai dengan pusat Kecamatan Sungai Mas.

Jika memilih sekolah kecamatan lain seperti Woyla Timur, anak-anak harus berjalan kaki melewati gunung, jarak tempuh bisa sampai setengah hari.

Karena itu tidak ada pilihan, anak-anak usia sekolah dasar Desa Sipot setiap hari terpaksa mengarungi sungai untuk sekolah.

Ada beberapa sekolah lain selain MIN 14, semuanya berada di desa tetangga dan semuanya sama. Untuk sampai sekolah harus mengambil risiko menyeberangi sungai menggunakan rakit atau sampan.

Bersambung...

Selanjutnya : Pengantar

Halaman 1 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar