UTU Sosialisasikan Teknologi Pemanenan Air Hujan

KBRN, MEULABOH : Universitas Teuku Umar menyosialisasikan sistem pemanenan air hujan atau rain water harvesting (RWH) untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

"Sosialisasi ini dilaksanakan di Pasie Mesjid, Meureubo, Aceh Barat" kata Ketua Tim pengabdian berbasis riset, Cut Suciatina Silvia, ST., MT, Rabu (06/10/2021).

Sosialisasi teknologi tersebut bertujuan agar penerapannya dapat digunakan untuk masyarakat yang lebih luas serta agar lebih terintegrasi dan bersinergi dengan program hidup sehat yang digaungkan pemerintah.

Manfaat lainnya dari pengabdian ini adalah masyarakat memperoleh informasi bahwasanya penerapan pemanenan air hujan dapat menambah jumlah cadangan air tanah, memperoleh sumber air bersih dan dapat mengurangi limpasan permukaan yang dapat menyebabkan genangan di kawasan perumahan.

Tim tersebut terdiri dari Dosen Teknik Sipil Universitas Teuku Umar melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis riset.

Cut Suciatina Silvia, ST., MT. menjelaskan bahwa memanen air hujan (rainwater harvesting) merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan. Sebelumnya, di lokasi studi sudah pernah dilakukan upaya sosialisasi dan penerapan lubang resapan biopori oleh teman sesama rekan peneliti dan pengabdi pada tahun 2019, dimana pengabdian tersebut dilakukan sebagai upaya pengendali banjir dengan metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Pada kegiatan pengabdian ini akan dilakukan upaya penanganan yang berbeda, dimana akan diperkenalkan bagaimana mengaplikasikan PAH melalui atap bangunan terintegrasi sumur resapan air hujan.

Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini diawali dengan penetapan lokasi pelaksanaan kegiatan, melakukan sosialisasi dengan kelompok mitra dalam bentuk pemberian materi, aplikasi penerapan PAH dan evaluasi program kegiatan. Sekretaris Desa pasie Mesjid membuka acara kegiatan pengabdian yang telah dilakukan di Awal Agustus 2021 mengatakan bahwa Desa membuka ruang bagi siapun akademisi yang ingin melaksanakan pengabdian di Desa Pasie Mesjid, dengan harapan ilmu dan pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat dapat bermanfaat.

Kegiatan yang aan dilakukan ini belum pernah diketahui oleh masyarakat, apalagi penerapan sistem pemanenan air hujan. Semoga kedepannya dapat dilakukan kegiatan pengabdian lainnya, dimana masyarakat Desa mengalami masalah pada kualitas air tanah, imbuhnya.

Ketua Mitra Pengabdian Agus Satria Madjid pun mengharapkan agar kegiatan ini dapat menjadi salah satu upaya mengatasi genangan akibat limpasan dari air hujan dan mau diterapkan oleh masyarakat ke depannya. Ketua tim pengabdian juga menyampaikan bahwa jika budaya pemanenan air hujan ini dapat diterapkan, dikarenakan teknologi PAH cukup sederhana, maka akan dapat memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat. Selain itu tim pengabdian sudah melakukan monev sebanyak 3 (tiga) kali untuk melihat sejauh mana sistem PAH ini berjalan dengan baik.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00