Musisi Aceh Barat Terpaksa Jual Alat Musik Untuk Bertahan Hidup

KBRN Meulaboh: Para pekerja musik atau musisi di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh terpaksa menjual berbagai alat musik mereka untuk bertahan hidup di tengah pandemi covid-19 yang belum diketahui kapan usainya.

"Demi bertahan hidup kami dan keluarga cuma itu yang bisa kami lakukan selama tiga bulan ini karena tidak bisa bekerja lain. Alat musik yang ada, itu kami jual," kata T Nasruddin (51) salah satu musisi di Meulaboh, kepada RRI, Senin (1/6/2020).

Sebagai Ketua Harian Komunitas Insan Musik Se-Pantai Barat Aceh ini, Nasruddin menaruh harapan kepada pemerintah agar memberikan solusi kepada komunitas pekerja seni sehingga mendapat pekerjaan atau penghasilan untuk ekonomi.

Pria yang akrap disapa Lem Ben ini, menyampaikan, bahwa kondisi ekonomi para musisi sudah sangat sekarat, dampak dari kebijakan pemerintah dalam setiap protokol penanganan dan pencegahan Covid-19 di Indonesia.

"Tidak boleh ada keramaian, tidak boleh pesta, sementara job kami hanya dari kegiatan seperti itu. Saya sudah lebih 30 tahun bergerak di bidang musisi, baru kali ini merasakan dampak sangat sulit ekonomi," kekuhnya ditemani rekannya Harry Syahputra.

Lebih lanjut disampaikan, kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit karena istrinya juga seorang biduan atau penyanyi di Aceh yang selalu mendampingi setiap kegiatan mangung/ show setiap acara pesta yang dimintakan masyarakat.

Nasruddin, mengaku pernah menerima Bantuan Lansung Tunai (BLT) senilai Rp250 ribu yang merupakan bantuan sosial dari Pemerintah Daerah (Pemda), akan tetapi itu didapatkan sebelum lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah/ 2020 Masehi.

"Cuma Rp250 ribu, mana mungkin bisa menghidupi lima orang anak di rumah. Kami para musisi berharap pemerintah memberikan jalan untuk kami mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup di tengah pandemi corona," pungkasnya.

Pemerintah diharapkan mempertimbangkan terkait larangan kegiatan keramaian, sebab job musisi tersandung izin kegiatan keramaian, sementara mal, pantai, pasar di Aceh, semua ada kegiatan keramaian, tetapi hanya komunitas seni yang terhenti.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00