Dukung Desa Lawet Sebagai Desa Wisata di Aceh Barat

Foto sawah Gampong Lawet.jpg

KBRN, Meulaboh: Januari 2022 adalah bulan bersejarah bagi warga desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat. Betapa tidak semenjak Republik Indonesia merdeka 76 tahun yang lalu, baru di bulan januari 2022 ini, masyarakat desa (gampong) Lawet dan sekitarnya mulai menikmati sarana komunikasi yang lancar dengan tersedianya jaringan internet. 

Hal ini setelah pada tanggal 18 Januari 2022 tower yang dibangun di gunung Keutambang secara resmi beroperasi. Suka cita dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di pelosok Aceh Barat ini. Warga sudah bisa menikmati jaringan telpon dan internetan dari dalam rumah, dimana hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya. 

Selama ini, apabila warga ingin berkomunikasi keluar desa harus mencari jaringan dengan cara pergi ke gunung, atau ke tepi sungai, ke sawah atau manjat pohon. Rasanya cerita seperti ini agak aneh ditengah kemajuan negeri ini, namun ini fakta yang kami sampaikan. 

Namun Alhamdulillah, kini masyarakat desa sudah bisa menikmati fasilitas jaringan internet yang lancar, tentu fasilitas ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kegiatan-kegiatan positif, jika tidak keberadaan fasilitas internet ini malah akan menjadi malapetaka baru bagi masyarakat desa. 

Ibarat sebuah pisau, pisau itu adalah salah satu alat yang sering digunakan oleh emak-emak di dapur untuk memotong sayuran, buah-buahan atau pekerjaan rumah lainnya. Artinya pisau itu bukanlah benda sering digunakan dan tidak  berbahaya (bagi ibu-ibu atau orang dewasa), namun sangat berbahaya bagi anak-anak yang belum tahu cara menggunakannya.

Bahkan pisau juga dapat menjadi alat untuk melukai orang lain ataupun diri sendiri, tidak sedikit orang bisa kehilangan nyawa gara-gara pisau. Kalau disalahgunakan, pisau dapat menjadi alat yang paling berbahaya bahkan mungkin disebagian tempat diharamkan membawa pisau. 

Logika ini tepat sekali digunakan untuk menggambarkan pemanfaatan jaringan internet, jika digunakan untuk hal positif sangat banyak manfaatnya, seperti untuk pelayanan publik, komunikasi, pengembangan website desa, pelatihan, perdagangan (online shop), desaign grafis, kreator YouTube, dan lain-lain.

Namun jika dimanfaatkan untuk hal-hal negatif juga bisa seperti permainan game online sejenis Higgs Domino Island (permainan melalui chip) yang sudah diharamkan oleh Ulama melalui fatwa MPU Aceh.

Bahkan tidak sedikit rumah tangga runtuh akibat dari penyalahgunaan jaringan internet, bisa berawal dari chating, whatshap pribadi dan lain-lain hingga terjadi perselingkuhan. 

Sebenarnya bukan hal itu yang ingin saya jelaskan, namun itu penting juga sebagai pengantar dan pengingat untuk sesama agar eforia "kemerdekaan" ini tidak disalahgunakan. 

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pemerintah gampong, para pemuda-pemudi, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, mahasiswa, pelajar, santri dan segenap masyarakat gampong Lawet untuk kita canangkan  program "DESA LAWET SEBAGAI DESA WISATA". 

Desa Wisata adalah desa yang dijadikan tempat wisata karena daya tarik yang dimilikinya. Desa wisata merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. 

Kementerian Pariwisata (2011) menjelaskan bahwa kriteria dalam menentukan desa yang akan dijadikan desa wisata memiliki potensi wisata yang dapat dimanfaatkan sebagai atraksi wisata, memiliki aksesibilitas, dan sudah memiliki aktivitas wisata atau berada dekat dengan aktivitas wisata yang sudah ada dan terkenal. 

Menurut hemat saya, Desa Lawet sudah cukup memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai desa wisata, karena semua persyaratan itu akan dapat kita penuhi apalagi dengan hadirnya fasilitas jaringan internet yang akan mempermudah akses komunikasi dan publikasi. 

Tentu untuk menuju sebuah desa wisata bukanlah pekerjaan mudah, harus ada political will dari semua pihak, terutama kesiapan masyarakat, juga kebijakan dari pemerintahan gampong untuk mewujudkan visi itu.

Paling penting adalah kemauan yang kuat dari kita semua untuk memajukan desa kita, memajukan generasi kita. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan program desa wisata ini. Yang pada tulisan bagian lainnya nanti akan saya jelaskan "upaya-upaya mewujudkan desa wisata". 

"LAWET sebagai Fesa DIGITAL. Apalagi itu? Ini masih sejalan dengan "LAWET sebagai Desa WISATA". Desa digital merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa, pemasaran dan percepatan akses serta pelayanan informasi.

Nantinya, seluruh pelayanan publik di gampong Lawet akan didigitalisasikan dan masyarakat desa dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan sekaligus mengenalkan produk unggulan gampong Lawet ke dunia luar. 

Berkat adanya internet, informasi semakin mudah tersebar dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya masyarakat di perkotaan, akan tetapi masyarakat yang ada di pedesaan.

Kemajuan ini tentunya memaksa setiap orang untuk melek teknologi, maka disini diperlukan pelatihan-pelatihan nantinya dapat dilakukan melalui program pengabdian dosen, atau melalui program pemerintah dan juga LSM. 

Pemuda Lawet harus menjadi corong untuk mengkampanyekan sisi positif potensi desa kita, kedepan kita bisa mengembangkan Channel Youtube untuk mengkampanyekan "LAWET DESA WISATA" dan beragam kegiatan positif lainnya bisa dilakukan.(Oleh : Aduwina Pakeh, M.Sc / Pemuda Lawet, Dosen Universitas Teuku Umar). 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar