Mengenal Meugang, Tradisi Unik Hari Besar Agama Islam Di Aceh, Eratkan Kebersamaan Melalui Daging Sapi

KBRN, Aceh Barat: Menjelang Hari Kebesaran Agama Islam salah satunya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat di Aceh akan ramai-ramai membeli daging sapi, lalu memasaknya, dan kemudian menyantapnya bersama-sama keluarga.

Tak jarang turut diundang pula tetangga, anak yatim, dan fakir miskin untuk bersama-sama menikmati hidangan. Tradisi unik ini bernama meugang. Dalam tradisi meugang, tali kebersamaan akan dipererat.

Hal ini pernah diuraikan oleh Marzuki Abubakar dalam penelitiannya, Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh: Sebuah Tafsir Agama dalam Budaya. Dia menulis, meugang menjadi momen penting bagi keluarga.

Biasanya, saat meugang berlangsung, anak maupun kerabat yang merantau atau tinggal di tempat jauh, akan pulang untuk merayakannya.

Daging-daging yang didapat bakal dimasak menjadi menu-menu beraneka rupa. Marzuki menuturkan, tiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri dalam mengolah daging. Di Kabupaten Aceh Barat, masyarakat biasanya menyajikan asam keueung. Bumbu asam keueung menyerupai masakan daging cincang padang. Hanya saja, rasa menu ini asam karena diberi cuka atau jeruk purut. Lain lagi dengan Kabupaten Pidie. Masyarakat di sana akan memasak kari. Mereka kerap menghidangkannya bersama leumang, yakni penganan dari beras ketan yang dicampur santan. Proses memasaknya dikenal dengan touet lemang (bakar lemang), yang biasanya turut melibatkan saudara atau tetangga dekat.

Sedangkan warga di Kabupaten Aceh Selatan kerap membuat gulai merah. Dari namanya sudah terlihat kalau makanan ini mempunyai rasa pedas.

Masyarakat Aceh juga merayakan meugang pada saat menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya memeluk Islam, tradisi meugang disebut punya kaitan erat dengan pengamalan ajaran agama.

Marzuki menjelaskan, dalam meugang terdapat ruh nilai-nilai keislaman. Terkhusus saat Ramadhan, masyarakat yang merayakannya dimaknai sebagai sebuah bentuk suka cita dan kesiapan dalam menyambut datangnya bulan penuh berkah tersebut. Selain itu, meugang juga dinilai sebagai ajang untuk bersedekah kepada fakir miskin, janda dan anak yatim, serta orang jompo.

Sedekah dalam meugang dibagi menjadi dua macam, yakni sedekah dalam bentuk daging mentah seberat setengah hingga satu kilogram, dan memberi makan berupa masakan daging. Menurut masyarakat setempat, merayakan meugang bukanlah suatu kewajiban, melainkan sebuah keharusan.

Oleh karena itu, setiap lapisan masyarakat akan tetap merayakan meugang, bagaimana pun kondisinya. Bagi yang tidak bisa membeli daging sapi atau lembu, bisa menggantinya dengan menyembelih ayam maupun bebek.

Tokoh masyarakat Aceh, Ali Hasjmy mengatakan, tradisi unik ini telah dimulai sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam bukunya, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Ali menjelaskan bahwa di hari itu, raja memerintahkan kepada Balai Fakir, badan yang menangani fakir miskin dan duafa, untuk membagikan daging, pakaian, dan beras kepada masyarakat tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00