Eceng gondok, Peningkatan Ekomomi Masyarakat Arongan Lambalek

KBRN, Meulaboh :Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) terus berupaya melakukan pengembangan UMKM melalui kelompok binaanya, salah satu nya dengan memberikan pelatihan mengayam eceng gondok.

 “Eceng gondok itu merupakan tumbuhan air yang hidup terapung di permukaan air yang tersebar di sungai-sungai di Aceh Barat. Eceng gondok ini mempunyai kecepatan berkembang biak vegetatif sangat tinggi karena itu pertumbuhanya rentan tidak terkendali dan menyebabkan masalah di sungai karena ia dapat menutupi seluruh permukaann air dan mengganggu ekosistem di sekitarnya,” kata Bupati Aceh Barat H. Ramli MS, Meulaboh.

Ramli  menjelaskan, namun demikian, dibalik permasalahan tersebut, eceng gondok ini bila di olah sedemikian rupa dapat membawa berkah tersendiri. Salah satu hasil olahan eceng gondok yang sudah sangat sering kita temukan adalah berbentuk kerajinan yang variatif dan bernilai tinggi.

“Hasil kerajinan eceng gondok tidak hanya diminati oleh pasar lokal, namun juga pasar nasional. Biasanya, hasil produk kerajinan eceng gondok ini memiliki harga yang bervariasi tergantung tingkat kesulitan anyaman dan nilai seni yang ditawarkan, semakin rumit, rapi dan unik maka harga jualnya pun semakin tinggi” ucapnya.

Ramli MS berharap kegiatan pelatihan ini dapat dimanfaatkan oleh peserta untuk belajar sehingga kedepannya dapat dijadikan usaha rumah tangga yang bisa meningkatkan sumber pendapatan rumah tangga, dengan pelatihan yang dilaksanakan cuma tiga hari ini dengan peserta yang terbatas dapat mengembangkan ilmunya dan mau mengajarkan orang lain lagi yang hari ini belum mendapatkan kesempatan untuk belajar, ungkapnya

Sementara  itu   Kadis Perindagkop dan UKM Aceh Barat Zulyady, SE.Ak mengatakan tujuan dilaksanakan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama pengrajin eceng gondok ini dan juga bertujuan untuk mendongkrak UMKM yang ada di Aceh Barat,

“karena hal ini juga merupakan bahagian dari upaya pemerintah dalam rangka mendongkrak perekonomian kerakyatan dengan memanfaatkan suber daya alam sesuai dengan misi Bupati Aceh Barat” ungkapnya

Kemudian Zulyadi juga mengatakan bahwa produk buatan kolompok binaan gampong kubu ini sudah beragam, mulai dari tas, wadah penyimpanan, alas kaki, hingga furniture, harga jualnya mulai dari Rp 35 ribu sampai Rp 1,5 juta rupiah.

“Harga paling mahal adalah furnitur yang dilapisi eceng gondok”, tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00