Ditemukan Ikan- Ikan Mati di Sungai Aceh Barat

KBRN Meulaboh: Kondisi air Sungai/ Krueng Wolya, Kabupaten Aceh Barat semakin lama yang bertambah keruh mulai memperlihatkan dampak buruk seperti matinya ikan-ikan di aliran sungai.

Panglima Laot atau Ketua Pemangku Hukum Adat Laut Kabupaten Aceh Barat Amiruddin, mengatakan, belum mengetahui secara pasti penyebab matinya biota sungai tersebut di aliran Sungai Woyla itu.

"Kita belum tau penyebabnya apa, tapi sudah ada yang mati terapung selama kondisi air sungai berubah keruh dan berlumpur yang sudah berbulan-bulan lamanya," katanya kepada rri.co.id, Jum'at, (26/2/2021).

Selama hampir 6 bulan terakhir kondisi air Sungai Woyla Aceh Barat berubah keruh dan bercampur lumpur, padahal saat ini kondisi cuaca musim kemarau, debit air sungai menurun dan biasanya pada saat kondisi seperti ini warna air jernih.

Bahkan, di saat musim-musim demikian masyarakat nelayan dan masyarakat yang tinggal dekat dengan bantaran sungai harusnya mendapat hasil tangkapan ikan yang banyak, mencari kerang dan mengkonsumsi air sungai.

"Tapi sejak air sungai keruh, nelayan sungai berhenti beraktivitas, pencari lokan/kerang sudah tidak ada karena kalau mereka berendam dalam air akan gatal-gatal. Kita harap ini segera ditindak lanjuti oleh pihak yang lebih berkompeten," imbuhnya.

Kata Amir, kondisi demikian juga dialami oleh Kabupaten Aceh Jaya yang memiliki satu hulu sungai dengan Aceh Barat, ia tidak berani menuduh bahwa penyebab berubahnya warna air sungai karena aktivitas tambang emas ilegal mau pun perusahaan tambang emas berizin di wilayah hulu.

Namun yang pastinya, kondisi ini sudah sangat memprihatinkan dan berlangsung lama, para nelayan sungai sudah sangat mengeluh tidak bisa bekerja karena air keruh sudah hampir 6 bulan.

"Bila benar karena aktivitas pengerukan gunung dan pengerukan aliran sungai untuk tambang emas, ini harus segera disikapi. Adat Laot memang tidak ada sanksi untuk perusak lingkungan, tapi UU Negara saya yakin ada," tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan, apabila memang ada dugaan lain semisal meracun air untuk menangkap ikan, itu juga harus ditelusuri, sebagai lembaga hukum adat Laot hanya sebagai wadah menerima pengaduan nelayan dan melaporkan bila ada temuan merusak ekosistem laut, sungai dan hutan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00