Tujuh Penambang Emas Ilegal Diringkus Polisi Aceh Barat

KBRN Meulaboh: Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Aceh Barat, Polda Aceh, menangkap tujuh orang diduga melakukan penambangan emas illegal (Illegal Mining) dialiran sungai Desa Gleng, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

"Ketujuh pelaku ditangkap saat melakukan penambangan emas ilegal dengan alat berat (excavator). Ditemukan juga barang bukti butiran emas dari perbuatan itu," kata Wakapolres Aceh Barat Kompol Zainuddin, S.Ag, dalam konferensi pers Rabu (24/6/2020).

Didampingi Kasat Reskrim AKP P Harahap dijelaskan, aktivitas penambangan emas ilegal tersebut ditemukan oleh Unit Opsnal Polres Aceh Barat dari informasi yang disampaikan oleh warga sehingga dilakukan serangkaian upaya penegakkan hukum.

Dalam aksi penangkapan pada Selasa 23 Juni 2020 petang itu, tim opsnal Polres Aceh Barat mendapati tujuh warga sedang bekerja dengan alat berat melakukan penambangan emas, menggunakan alat berat.

Di lokasi penangkapan, ikut disita barang bukti berupa satu unit exavator, satu botol bekas air mineral berisikan butiran emas bercampur tanah dan air, kemudian satu set asbuk alat penyaring emas dan satu alat indang emas.

"Daerah penambangan emas ilegal itu sudah menjadi pemantauan Satreskrim Polres Aceh Barat karena memang berpotensi terjadi illegal Mining," tegasnya yang juga didampingi KBO Reskrim dan Kasubag Humas Polres Aceh Barat.

Kompol Zainuddin menyampaikan, aparatur desa di wilayah berpotensi terjadi illegal mining sudah diberikan sosialisasi, jangan biarkan ada yang merusak lingkungan dengan penambangan emas. Ternyata ada juga warga yang masih melakukannya.

Di wilayah Kabupaten Aceh Barat ada dua kecamatan yang memang dipetakan masuk dalam daerah rawan terjadi praktik illegal mining, yakni Kecamatan Sungai Mas dan Kecamatan Pante Ceureumen.

"Upaya prefentif dengan Walhi dan beberapa organisasi lain peduli lingkungan sudah kita lakukan. Maka kalau tetap ada perbuatan melanggar hukum maka akan ditindak," imbuhnya Zainuddin.

Ketujuh warga lokal tersebut dikenakan sanksi sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00