Lintas Sawang Teube - Alue Lhok Belum dilakukan Pengaspalan, Begini Tanggapan PUPR Aceh

KBRN, Aceh Barat: Dampak dari Lintasan Jalan Sawang Teube – Alu Lhok  membuat para pengguna jalan dan warga sekitar mengeluhkan atas proyek perbaikan yang kini kian penuh debu ketika kendaraan melintas. Masyarakat dan pedagangpun terpaksa harus merasakan debu terus menyelimuti kawasan itu.

Hingga kini debu halus yang diterpa dari badan jalan dilintasan Sawang Teube- Alue Lhok ini mengakibatkan para pedagang dan warga merasa terganggu pernafasannya, termasuk anak-anak yang tinggal di sekitar proyek perbaikan jalan tersebut. Kendaraan yang melintas di jalur tersebut akan langsung menerpa ke arah perumahan warga sekitar.

Sulaiman penggunan jalan tersebut mengakui,dirinya sangat terganggu dengan debu yang diakibatkan oleh proyek perbaikan jalan tersebut.

"belum ada tindakan, sejak pengerasan jalan dua bulan yang lalu sampai sekarang pun, jarang disiram oleh rekanan proyek. Apalagi warga yang punya dagangan dipastikan Debu masuk ke dalam Ruko dan lengket pada barang-barang dagangannya, juga pada property seperti rak-rak barang," Ucapnya rri.co.id, Kamis (11/8/2022).

"Kondisi itu sudah sangat lama sehingga banyak pengendara yang melintas sempat jengkel melihat jalan yang tidak kunjung selesai," ungkapnya.

Beberapa warga lain kembali menyampaikan harapan agar perbaikan jalan dipacu. 

Sebab, selama ini setiap waktu sangat banyak kendaraan melintasi dari arah Kaway XVI ke Meulaboh atau sebaliknya. 

Secara terpisah Ketua Fraksi Pan DPRA Aceh Fuadri ketika diminta tanggapan, terkait dengan jalan itu, mantan Wakil Bupati Aceh Barat itu meminta kepada pihak rekanan dan PPTK agar melakukan penyiraman secara rutin untuk mencegah debu yang lengket diperumaha warga sekitar.

“ya sejauh ini memang masih dalam proses, namun alangkah baiknya pihak rekanan dan PPTK melakukan penyiraman secara rutin, apa satu hari sekali, atau dua hari sekali untuk mencegah debu bisa masuk keperumahan warga.”ucap Fuadri.

Dirinya menambahkan,hal itu perlu dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan warga sekitar agar terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan.

Terkait dengan pengaspalan lintasan Kaway XVI Sawang Teube – Alue Lhok, PUPR Aceh memberikan tanggapan terkait dengan pembangunan jalan itu.

Ketika diminta tanggapan oleh pewarta, kepada Kepala UPTD Jalan dan Jembatan Wilayah IV Oskar Muda Dilaga,dirinya meminta untuk menghubungi Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan PUPR Aceh.

Setelah dikonfirmasi media kepada Medi Arjuna Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan PUPR Aceh, dirinya meminta untuk konfrimasi kepada PPTK dan rekanan tidak langsung kepada KPA, karena pihaknya telah melimpahkan semua pengerjaan itu kepada PPTK dan pihak pengawasan dilapangan.

“jangan masalah seperti ini dilimpahkan ke Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), ini enggak dikit dikit KPA dikit dikit KPA, KPA itu urusnya yang besar besar, bukan hal hal kecil seperti ini.”jelas Medi Arjuna Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan PUPR Aceh ketika dikonfirmasi rri.co.id, Kamis (11/8/2022).

Tambah Medi, apabila ingin menanyakan kapan pengaspalan dilintasan itu dilakukan dirinya menyarankan untuk konfirmasi secara professional kepada pihak pengawas dan PPTK yang ada dilapangan.

“harus professional, tanya sama mereka Pengawas,rekanan dan PPTK yang ada dilapangan,”jelasnya dengan nada tegas.

Mengomentari pembangunan jalan Sawang Teube – Alue Lhok Wakil Ketua DPRK Aceh Barat Ramli,SE coba mengangkat bicara, dirinya juga menambahkan, sangat disayangkan pembangunan jalan Lintas Kaway XVI – Meulaboh didesa Sawang Teube- Alue Lhok ini sudah sangat lama dilantarkan yang terkesan dengan begitu saja.

“itu yang jadi permasalahan sekarang, rumah masyarakat sudah penuh dengan debu,jangan la terkesan dibiarakan seperti itu.”tegas Ramli.

Dirinya pun menambahkan, keluhan itu bukan hanya disampaikan oleh masyarakat, namun para pengendara roda empat pengangkut sawit sudah banyak yang melaporkan kepada dirinya terkait dengan buruknya akses lintasan Sawang Teube – Alue Lhok yang kini masih belum terealisasi hingga saat ini. Hal ini sangat disayangkan, karena juga menggangu roda perekonomian masyarakat sekitar.

“bukan hanya warga, tapi truk pengangkut sawit yang lintasi jalan itu juga mengeluh, banyak yang patah per mobil mereka ketika melintasi disitu.”tambah ramli.

Ketika ditanyai Sikap PUPR Aceh, Ramli menegaskan, seharusya seorang pejabat negara tidak boleh mengeluarkan statement seperti itu, karena ia menilai setiap wartawan/media berhak menanyakan sejauh mana sudah proses untuk berimbangnya sebuah informasi dan pembangunan sebuah daerah untuk kepentingan masyarakat bukan pribadi.

“kalau memang ucapannya seperti itu, Berarti Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) nya tidak bertanggung jawab, seharunya kan gampang tinggal bilang kepada media kapan dilakukan pengaspalan karena untuk kebutuhan aspirasi masyarakat. Kalau memang tidak mampu menampung aspirasi masyarakat jangan jadi KPA mengundurkan diri saja KPA nya, ini memang saya lagi jalan ke Banda Aceh saya akan jumpai langsung Kepala Dinas PUPR Aceh nya.”tegasnya.

Secara tegas Ramli,SE pun meminta kepada pihak PUPR Aceh aga bisa mengatasi permasalahan tersebut, misalkan belum bisa diaspal silahkan dilakukan penyiraman secara rutin untuk menghindari penyakit diwarga sekitar.

“saya tidak main main, saya akan jumpai Kepala Dinas PUPR Aceh, saya akan pertanyakan hal ini, kenapa ada seorang pejabat mengeluarkan statement seperti ini. Saya juga minta agar proses pengaspalan ini bisa cepat dilakukan, kalau tidak bisa cepat diaspal coba dilakukan penyiraman secara rutin.”tutup Ramli,Se ketika dihubungi rri.co.id, Jum’at (12/8/2022) yang sedang dalam perjalanan Ke Banda Aceh.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar