Peduli Nutrisi Dan Kesehatan Reproduksi, DPMPKB Aceh Jaya Gencarkan Sosialisasi Cegah Stunting Sejak Dini

KBRN Aceh Jaya : Menyongsong bonus demografi pada 2030, Presiden Joko Widodo menargetkan angka prevalensi stunting di Indonesia turun ke angka 14 persen atau di bawah ambang batas stunting yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 20 persen. Stunting menjadi isu yang penting karena membawa implikasi kepada kemajuan suatu bangsa.

"Bonus demografi membawa kita pada tingginya proporsi angkatan kerja, oleh karena itu pemerintah menetapkan agar kita bisa memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, memiliki kompetensi, dan memiliki kepribadian Indonesia. Hal ini juga berkaitan dengan Era Keemasan Indonesia pada 2045 agar bisa menjadi bangsa yang terpandang di dunia” Ujar Dra. Salbiah, M.M ketika berdialog bersama rri.co.id, Jum’at (01/07/2022).

Salbiah mengharapkan agar remaja bersama para pemangku kepentingan di Aceh Jaya agar ikut serta menyebarkan informasi yang didapatkan kepada para remaja putri sebagai calon ibu dan para ibu muda. Penyebaran informasi diperlukan agar mereka menyadari pentingnya pencegahan stunting sejak dini, khususnya dengan peduli pada nutrisi dan kesehatan reproduksi. 

Salah satu yang kerap diabaikan kata Salbiah, para remaja seringkali tidak menyadari obesitas dan malnutrisi. Seringkali remaja mengkonsumsi banyak makanan namun aktivitasnya lebih sedikit atau justru sebaliknya. Aktivitas yang sedikit menyebabkan asupan makanan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan malnutrisi.

“Untuk mengetahui kita obesitas atau malnutrisi, kita bisa hitung sendiri dengan cara membagi berat badan dengan tinggi badan dalam meter kuadrat,” ucapnya. 

Lebih dalam Salbiah menjelaskan, kesehatan reproduksi perlu diperhatikan agar tidak mengakibatkan stunting di masa depan.

“Hal ini dikarenakan remaja adalah calon ibu di masa depan. Kalau remaja tidak tahu karena kurangnya akses informasi tentang layananan kesehatan reproduksi atau remaja tidak peduli dengan kesehatan reproduksi, maka hal itulah yang akan menyebabkan stunting di masa depan,” katanya lebih lanjut. 

Dirinya juga menyarankan kepada remaja untuk menghindari pernikahan dini. Menurutnya pernikahan dini bisa berdampak pada kesehatan reproduksi serta menyebabkan bayi terlahir stunting. Pernikahan dini juga menyebabkan tingginya resiko kematian ibu dan bayi saat persalinan.

“Karena menikah muda, jadi panggul ibunya masih sempit. Hal ini dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi. Selain itu, kehamilan di usia muda dapat menyebabkan robekan di mulut rahim sehingga menyebabkan perdarahan saat proses persalinan dan masih banyak dampak lainnya,” ujarnya. 

Ia pun berpesan kepada remaja untuk dapat menyongsong masa depan yang cerah.

“Jadilah remaja yang tegar, terbebas dari resiko kesehatan reproduksi. Tetaplah menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berpikirlah untuk mendewasakan usia perkawinan guna memutus mata rantai stunting. Aktiflah dalam kampanye pencegahan stunting dan mengedukasi masyarakat untuk bangsa Indonesia,” katanya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar