Pameran Nasional Alat Musik Nusantara di Aceh Diperpanjang Hingga Akhir Juli

KBRN, Banda Aceh : Pameran Nasional Alat Musik Tradisional Nusantara 2022 yang berlangsung di Gedung Pameran Temporer Museum Aceh, Banda Aceh, pada tanggal 22 – 25 Juni 2022 mendapat antusias tinggi dari masyarakat. Pengunjung juga memuji konsep pelaksanaan pameran ini.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Almuniza Kamal menerangkan, berdasarkan data Museum Aceh hingga hari terakhir pameran, pengunjung yang tercatat mencapai seribu lebih baik dari Aceh maupun nasional.

Almuniza menyebut, jumlah pengunjung Pameran Nasional Alat Musik Tradisional Nusantara 2022 dari tanggal 22 – 25 Juni 2022 mencapai 1.164 orang yang terdata. Angka itu menurutnya lumayan tinggi mengingat jenis pameran yang menampilkan koleksi alat musik tradisional (benda mati).

“Karena tingginya antusias masyarakat, maka pameran ini akan terus kita buka hingga akhir Juli nanti,” ujar Almuniza, Senin (27/6/2022).

Pameran yang menurut mantan Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh itu event langka, harus diberikan ruang dan kesempatan lebih. Tujuannya agar masyarakat dapat terdorong untuk mengenal dan melestarikan alat musik tradisional daerahnya masing-masing.

“Terutama buat generasi milenial, pameran ini harus jadi kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata dalam membangun negeri khususnya di bidang kebudayaan,” imbuh Almuniza.

Gayung pun bersambut. Data Museum Aceh mencatat, pada Minggu 26 Juni 2022 atau sehari setelah diperpanjang, pameran yang berlangsung di Gedung Pameran Temporer Museum Aceh Banda Aceh itu dikunjungi oleh 318 wisatawan sehingga angka kunjungan mencapai 1.482 orang per hari Minggu.

“Kita sangat mengapresiasi permintaan Pak Plt Kadisbudpar Aceh tersebut. Kami dari Museum Aceh pun sangat senang dan mengundang siapa saja untuk memanfaatkan momen pameran ini,” kata Kepala Museum Aceh, Mudha Farsyah.

*Apresiasi Pengunjung*

Pameran Nasional Alat Musik Tradisional Nusantara ke-13 yang berlangsung di Museum Aceh dengan mengangkat tema “Ragam Nada Satu Irama” juga mendapat apresiasi pengunjung.

Apresiasi salah satunya datang dari Budi Husada, Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga hadir mewakili Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Menurutnya, pameran yang diselenggarakan Museum Aceh ini sangat komunikatif dan mudah diterima oleh pengunjung.

“Setiap penyelenggaraan Pameran Nasional Alat Musik Tradisional Nusantara setiap daerahnya memiliki kekhasan sendiri baik itu dari penataan, komunikasi dengan pengunjung, dan penyajian koleksi sehingga lebih mudah diterima pengunjung. Di Museum Aceh tahun ini juga punya kekhasannya sendiri yaitu melibatkan unsur-unsur kekinian dan juga visualisasi dalam bentuk digital,” kata Budi Husada.

Budi Husada menjelaskan visualisasi koleksi alat musik dalam layar informasi digital touchscreen di ruang pameran sangat tepat untuk memberikan pengunjung pengetahuan mengenai objek yang dipamerkan.

Selain itu, tambahnya, penyajian alat musik berdasarkan enam kavling kepulauan juga sangat menarik. Pengunjung dapat dengan mudah melihat koleksi mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali-NTB-NTT, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku-Papua.

“Alhamdulillah untuk Yogyakarta sendiri mendapat area khusus sehingga cukup mewakili keberadaan alat musik krumpyung yang merupakan warisan budaya tak benda nasional. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha untuk melestarikan alat musik tradisional sebagai warisan budaya takbenda sehingga masyarakat juga termotivasi untuk melestarikannya,” ujarnya.

Kepala UPTD Museum NTT, A Meximus A Asamani, juga memuji pelaksanaan Pameran Nasional Musik Tradisional Nusantara di Aceh. Dia terkesima dengan pertunjukan musik “Melodi Nusantara” pada saat pembukaan acara, yang menampilkan kolaborasi musik daerah dari Sabang sampai Merauke.

“Khusus kolaborasi musik dari beberapa daerah yang ditampilkan luar biasa karena untuk menentukan nada dan irama dari alat musik yang berbeda dari beberapa daerah tentu tidak mudah. Hal ini menarik karena sangat terkait dengan tema pameran Ragam Nada Satu Irama,” ujar Meximus, Senin (27/06/2022), melalui pesan WhatsApp.

Kepala Museum NTT juga memberikan dua jempol kepada Museum Aceh yang menyediakan layar informasi digital touchscreen di ruang pameran. “Penjelasan koleksi alat musiknya dengan sistem aplikasi digital sangat baik dan bermanfaat bagi kami NTT ke depannya,” tutur Meximus.

Diberitakan sebelumnya, Pameran Nasional Alat Musik Tradisional Nusantara 2022 yang berlangsung di Gedung Pameran Temporer Museum Aceh menampilkan 200 lebih alat musik tradisional Nusantara dari koleksi 31 museum se-Indonesia. Pameran ini rutin dilaksanakan setiap tahun sejak pertama kali digelar pada tahun 2010 di Museum Nasional Jakarta. Tahun depan, Museum Sulawesi Tengah di Kota Palu akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan pameran nasional ini.(mc/10)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar