Polres Simeulue Musnahkan Ratusan Knalpot Brong Hasil Sitaan Satlantas

KBRN, Simeulue : Polres Simeulue memusnahkan ratusan knalpot brong. Pemusnahan knalpot bersuara bising ini dilakukan di halaman Mapolres setempat usai melaksanakan Apel gelar pasukan operasi ketupat seulawah, pada Rabu (5/5).

Kapolres Simeulue, Wakapolres, Ketua DPRK Dandim, Kasat Lantas, dan Kajari turut memusnahkan knalpot tersebut. Saling bergantian, satu persatu knalpot hasil penertiban polisi ini dipotong menggunakan mesin gerinda disaksikan segenap anggota Polres setempat.

Apel gelar pasukan operasi ketupat seulawah kali ini, dipimpin Ketua DPRK Simeulue Irwan Suharmi, SE. M,Si. Apel ini mengangkat tema “Kita Tingkatkan Sinergi Polri Dengan Instansi Terkait Dalam Rangka Memberikan Rasa Aman Dan Nyaman Pada Perayaan Idul Fitri 1442 Hijriyah.”

Pelaksanaan apel gelar pasukan ini ditandai dengan pemeriksaan pasukan dan penyamatan tanda pita operasi sebagai kesiapan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam amanat Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., yang dibacakan Ketua DPRK Simeulue menyampaikan," apel gelar pasukan ini diselenggarakan untuk mengecek kesiapan personel dan peralatan serta keterlibatan unsur terkait seperti TNI, Pemda dan mitra kamtibmas lainnya sekaligus untuk menunjukkan kesiapan penyelenggaraan operasi kepada publik.

“Menjelang hari perayaan Idul Fitri, tren kasus Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 2,03% akibat adanya peningkatan aktifitas masyarakat khususnya menjelang akhir Bulan Suci Ramadhan.  Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah harus mengambil kebijakan larangan mudik pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Kebijakan ini sendiri sudah dilakukan sebelumnya, karena situasi pandemi Covid-19,"Pungkasnya.

Sementara itu amanat Presiden Joko Widodo yang juga disampaikan Ketua DPRK menjelaskan kebijakan ini dilakukan dengan pertimbangan pengalaman terjadinya tren kenaikan kasus setelah pelaksanaan libur panjang, termasuk peningkatan kasus sebesar 93% pada perayaan Idul Fitri tahun sebelumnya.

Kendati demikian unarnya, keinginan Masyarakat untuk mudik sangat lah tinggi. Maka dikatakannya prioritaskan langkah-langkah preventif secara humanis serta melaksanakan penegakan hukum sebagi upaya terakhir “ultimum remedium” agar masyarakat betul-betul mematuhi protokol kesehatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00