Legenda Krueng Tujoh di Aceh Barat

Aliran Krueng Tujoh pada September 2021/ Foto IST.jpeg

KBRN, Meulaboh: Krueng Tujoh, adalah sebuah penamaan untuk aliran sungai yang terdapat di kawasan Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. 

Sungai ini diberi nama Krueng Tujoh karena memiliki 7 aliran air yang menyatu dalam satu tumpuan aliran Sungai, yang kemudian di sebut Krueng Tujoh atau Sungai Tujoh.

Krueng Tujoh sebagai induk dari Krueng Pucok laot/Krueng Ie Mirah, Krueng Buloh, Krueng Balee, Krueng Pung Ga, Krueng Reudep, Krueng Ranub Dong sampai Krueng Sumber Batu.

Belum ada literatur sejarah yang pasti mengungkap penamaan krueng tujoh, beberapa tokoh masyakat yang merupakan warga penduduk asli Daerah bantaran Krueng Tujoh menceritakan, ada sejarah orang tua mereka sampaikan secara turun temurun.

Pernah ada satu kejadian masa lampau, jatuhnya Alquran di satu titik mata air sehingga, mata air krueng tujoh tidak akan pernah kering dan di lokasi itu mengeluarkan  buih seperti mendidih sehingga dipercaya warga lokal tempat sakral adalah sejarah yang memiliki.

Menurut, Teuku Saiful Ambia, salah seorang warga menceritakan bahwa orang tua mereka terdahulu menjadi Krueng Tujoh dan semua kawasan perhutanan adat sebagai sumber ekonomi menghidupi keluarga. 

Bukan hanya sekedar mendapat ikan, kerang, udang di air sungai, lebih dari itu, ada kawasan hutan dalam area sekeliling Krung Tujoh, warga juga berladang, mencari rotan dan mencari kayu sebagai pekerjaan utama.

"Turun temurun orang tua kami menceritakan bahwa pernah ada jatuh Quran kramat dari sampan yang dibawa oleh seseorang yang sampai saat ini tidak ditemukan. Ceritanya menjadi sumber mata air sehingga sampai saat ini air sungai tidak pernah mengering," jelasnya.

Saat ini kondisinya sudah berubah, Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak sudah berubah dan beralih fungsi, sendimentasi bahkan warna air juga sudah berubah warna, sesekali bahkan sudah mengeluarkan bau.

Apa yang dirasakan warga saat ini adalah, mereka takut sejarah Krung Tujoh hanya akan tinggal Legenda yang tidak dapat dibuktikan lagi kisah tersebut di masa lalu untuk masa akan datang, katanya Krung Tujuh terdapat Limbek atau ikan lele yang sangat enak.

"Kami takut, generasi dari penduduk lokal menganggap kami di masa ini gagal menjaga dan memelihara Krueng Tujoh dan ini adalah sebuah beban bagi kami," imbuhnya lagi.

Setiap tahun, ada momen tersendiri warga setempat khususnya para nelayan tradisional di Krueng Tujoh mengadakan ritual kenduri sebagai salah satu bentuk syukur atas tersedianya sumber daya alam di kawasan itu.

Setelah pelaksanaan kegiatan tersebut, para nelayan tidak dibenarkan menangkap ikan selama 3 hari berturut-turut untuk memberi ruang jeda biota sungai berkembang dan semakin banyak.

"Aturan adat semacam ini bagi kami nelayan ada, tetapi hanya untuk nelayan atau masyarakat," tambah T Saiful yang juga Ketua Nelayan Tradisional Krueng Tujoh tersebut.

Akan tetapi saat ini kondisi sudah berbeda, kehadiran perusahaan berinvestasi ke daerah mereka mengelola kawasan pertambangan saat ini disebut-sebut sebagai dalang dari kerusakan Krung Tujoh. 

Meskipun warga tidak berani menjastivikasi bahwa penyebab tercemarnya air sungai karena ulah perusahaan tambang, tetapi dapat dibuktikan bahwa dalam aliran sungai itu didapati batubara yang tercecer.

Perjuangan warga lokal saat ini adalah menjaga agar Krueng Tujoh tidak terus dirusak, warga takut gagal melakukan upaya tersebut jika tidak ada dukungan dari pihak Pemerintah Daerah.

Sudah puluhan  tahun lalu berhasil dibentuk sebuah hukum berkearifan lokal, tetapi sampai saat ini belum kuat dan mampu melindungi Krung Tujoh agar tidak dijamah para perusak lingkungan. 

Ada aturan adat yakni pantang menangkap ikan di Sungai Krung Tujoh pada waktu waktu tertentu, dan warga setiap tahun mengadakan kenduri di aliran sungai itu sebagai bentuk syukur dengan membuat berbagai rutual. 

Tetapi aturan ini tidak tersurat, hanya tersirat dari para pemangku adat terdahulu sebelum terbentuknya Undang-Undang di Republik ini atau Qanun di Provinsi Aceh.

Satu-satunya solusi untuk menyelamatkan Krung Tujoh adalah memperkuat hukum adat sebagai kearifan lokal. 

Jangan sampai aliran Sungai Krung Tujoh dicemari oleh limbah, apalagi dijadikan sebagai aliran pembuangan limbah, jika ini terus dibiarkan maka Krueng Tujoh hanya tinggal Lagenda masa lalu.

Salah satu upaya tokoh-tokoh masyarakat yang berada di Kemukiman Ranto Panyang, Kecamatan Meureubo, telah membentuk sebuah aliansi diberi nama Aliansi Masyarakat Peduli Krueng Tujoh (AMPKT). 

Terbentuknya kumpulan warga ini agar ada satu suara dan menjadi wadah tukar pikiran menyelamatkan harta benda peninggalan leluhur mereka.

Abdul Jalil, salah satu Tokoh Aliansi Krueng Tujoh, menyebut bahwa semestinya Aceh yang begitu kuat dengan aturan – aturan adat yang berkearifan lokal memiliki gagasan yang lebih untuk Krueng Tujoh. 

Saat ini ada satu perusahaan yang bergerak disektor pertambangan batubara yang telah menguasai kawasan setempat, bahkan perusahaan tersebut membuat sumber mata air baru untuk aliran krueng tujoh dari pembuangan pengolahan limbah dari perusahaan.

Aliran sungai diduga telah tercemar dan biota di dalamnya seperti ikan sudah tidak seperti dulu, warga sebenarnya tidak ingin berspekulasi lebih jauh sebelum ada pembuktian, tetapi semestinya Pemerintahlah yang punya andil untuk hal tersebut.

Warga sudah letih dan gerah menyampaikan keluhan, sudah dibawa ke tingkat kabupaten hingga provinsi, tetapi belum ada hasil yang memuaskan. Manfaat sungai bagi manusia sangatlah banyak. Mulai dari menjadi sumber mata pencaharian, sampai mencegah terjadinya banjir. 

Merawat dan menjaga kondisi sungai adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Sungai yang rusak akan membawa dampak yang buruk bagi lingkungan.Ketika berbicara kepentingan Investasi dan kearifan lokal, dimana pun itu tidak akan pernah menyatu. Investasi memerlukan area garapan, sekalipun itu adalah wilayah adat/ atau tanah Ulayat.

Solusinya pemerintah harus membentuk sebuah regulasi kearifan lokal untuk membentengi kawasan adat agar tidak dijamah kooperasi untuk dimasa akan datang. 

Para investior tentu akan terus berdatangan demi pembangunan nasional dan regional. Tetapi pelestarian wilayah hutan adat, tanah wilayah jangan sampai diabaikan. Pisahkan keduanya dengan sebuah tembok pemerintah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar