Warga Binaan Lapas Kelas I Tanjung Gusta Diduga Dianiaya Oknum Petugas

KBRN, Medan: Seorang napi di Lapas Kelas 1 Tanjung Gusta Medan mengaku dianiaya pegawai lapas. Dalam video berdurasi 45 detik yang viral di media sosial, seorang napi menyebut rekannya dipukuli karena tidak memberikan uang kepada petugas.

Pria itu merekam dan memperlihatkan punggung rekannya yang memar karena diduga dianiaya.

"Ini tindakan pegawali Lapas Kelas 1 Medan. Kami bukan binatang, kami manusia, Pak. Kami dikurunng sampai bertahun-tahun di sini karena kasus kecil aja. Dimintai uang Rp 30 juta-Rp 40 juta baru bisa keluar. Kalau enggak kami dipukuli seperti ini kalau enggak kasih uang," ujar pria tersebut.

Kalapas Kelas I Tanjung Gusta Medan, Erwedi Supriyatno mengonfirmasi kebenaran dalam video itu. Dia mengakui,  video tersebut direkam di salah satu kamar di blok khusus napi berisiko di lapas itu.

"Itu direkam pada Sabtu kemarin," kata Erwedi melalui sambungan telepon, Minggu (19/9/2021).

Dia memastikan, pria yang ada dalam video tersebut adalah narapidana berinisial S. Napi tersebut baru masuk ke lapas itu pada Sabtu kemarin. Dia dihukum karena kasus narkoba yang menjeratnya.

Badan dan punggung S, seperti dalam video itu terlihat memar. Erwedi mengaku sampai saat ini masih memeriksa sejumlah orang, baik pegawai lapas maupun saksi lain, termasuk S untuk mencari tahu siapa pelaku sebenarnya.

Jika pegawai lapas yang melakukan, maka akan ditindak tegas sesuai regulasi yang ada. Begitu juga jika penganiayaan tersebut dilakukan oleh sesama napi.

Sementara pemilik suara atau yang merekam video tersebut merupakan narapinana berinisial H. Mereka mengetahui perekam video itu adalah H karena mengenali suaranya. Erwedi punya catatan tersendiri soal H.

Dia menyebutkan, H merupakan napi yang suka bikin onar di dalam lapas. "H ini warga binaan biang onar. Dia baru empat bulan di sini," kata Erwedi.

H sendiri dipindahkan dari lapas di Langkat ke Lapas Tanjung Gusta pada Mei 2021. Dia dipindahkan dari sana karena sering membuat keonaran dengan mengancam pegawai lapas atau sesama napi. Hal serupa juga kerap dilakukan di lapas itu.

H merupakan napi dengan dua kasus penganiayaan berbeda. Kasus pertama dia dihukum penjara 1 tahun 9 bulan, sedangkan kasus kedua dihukum 2 tahun 3 bulan penjara.

Karena ulahnya itu, H ditempatkan di salah satu kamar di blok khusus napi dengan risiko tinggi, termasuk narapidana kasus terorisme. H masuk dalam klasifikasi berisiko tinggi karena track record di lapas sebelumnya yang sering mengancam petugas dan sesama napi.

"Jadi tidak benar jika dia bilang sudah bertahun-tahun di sini seperti di video itu. Dia baru empat bulan dan pindahan dari Langkat," kata Erwedi.

Selain memeriksa sejumlah pihak untuk mendapat informasi utuh mengenai video viral itu, Erwedi juga memastikan akan menelusuri dari mana ponsel yang digunakan H untuk merekam video itu. "Kan tidak boleh pegang HP di dalam lapas," tegasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00