Mengejutkan, Sistem Maybank Bisa Dijebol

KBRN, Medan:   Sidang lanjutan terdakwa Astina Jayanti kasus penggelapan uang dari para nasabah Maybank sebesar 1 miliar lebih berlangsung tegang Jumat (22/10/2021).

Pasalnya dalam persidangan yang digelar di ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri Medan pada Selasa (19/10/2021) yang beragendakan mendengarkan keterangan dari dua orang saksi yakni Yuli dan Evi P Simangunsong terkuak sistem di Maybank dapat di'jebol'.

"Formnya kan seperti form asli, supaya bisa begini seperti asli gimana cara dia?, apakah dia masuk ke sistem?," tanya Hakim Anggota, Hadi Nasution, SH, MH.

Saksi pun mengiyakan pertanyaan Majelis Hakim. Dan saksi Yuli menjelaskan kalau terdakwa memperolehnya dengan cara mendownload, mengedit dan baru print.

"Nah begitulah, kalian jadi saksi. Ini Formatnya milik Maybank kan?. Jadi dia tukang tukangi," kata Majelis Hakim.

Setelah mendengar jawaban dari saksi, Majelis Hakim tampak terkejut dan menyarankan pihak Maybank untuk memperketat sistemnya agar tak bisa lagi diedit.

"Ini jadi pengalaman agar gak dijebol, biar gak bisa diedit lagi ke depannya. Kalau yang aslinya produk Maybank dari sistem. Jadi ini untuk keamanan di perbankan klen juga. Jadi untuk mengambil atau penarikan uang, ada gak prosesnya untuk ditempuh?  ada gak prosedurnya seperti itu," tegas Hakim Anggota.

Mengutip dakwaan JPU, Roceberry C Damanik, SH pada bulan Januari 2019 terdakwa Astina Jayanti selaku pegawai bank pada kantor PT. Bank Maybank Indonesia KCP Setiabudi Medan sejak 2 Juli 2018 (berdasarkan Surat Keputusan dari Kantor Pusat PT. Bank Maybank Nomor.SK.PERS.2018.2619/DIR HC tanggal 24 Oktober 2018) yang menjabat sebagai Customer Service (CS) dan Marketing, menawarkan secara lisan program saving dana seperti deposito dengan bunga tinggi serta program MaybankGift kepada nasabah Bank Maybank Cabang Setiabudi Medan.

Bahwa program MaybankGift yang terdakwa tawarkan, sebelumnya merupakan salah satu program saving dana dari Bank Maybank yang menawarkan investasi dana dengan bonus gift/hadiah seperti emas kepada para nasabahnya namun program tersebut pada saat terdakwa tawarkan kepada nasabah sudah tidak lagi berlaku di kantor Bank Maybank KCP Setiabudi Medan.

Bahwa terdakwa menawarkan program MaybankGift (program fiktif) kepada para nasabah Bank Maybank Setiabudi Medan tanpa sepengetahuan dari saksi Evi P Simangunsong (selaku pimpinan Bank Maybank Cabang Setiabudi Medan), dengan memberikan formulir pendaftaran program saving dana MayBank Gift kepada para nasabah Bank Maybank yang berhasil terdakwa yakinkan untuk mengikuti program Maybank Gift.

Bahwa formulir pendaftaran program tersebut sudah ada sebelumnya di Bank Maybank, namun yang terdakwa serahkan kepada para nasabah merupakan formulir pendaftaran program MaybankGift yang telah terdakwa edit atau rubah pada beberapa bagian diantaranya yaitu pada isi kode SUN (SBR007), tanggal setelmen/ penerbitan dan tanggal jatuh tempo, tanggal pembayaran, seri obligasi, jenis program dan keterangan hadiah yang seluruhnya tidak sesuai dengan sistem yang berlaku pada program Maybank Gift di Bank Maybank.

Setelah formulir tersebut diisi dan ditandatangani oleh para nasabah, sebagai bukti nasabah telah mengikuti program Maybank Gift fiktif yang ditawarkan oleh terdakwa lalu terdakwa membuat dan menyerahkan dokumen bilyet deposito Maybank Indonesia palsu. Yang sebelumnya terdakwa sudah membuat catatan palsu pada dokumen lembar nota konfirmasi kepesertaan Maybank MyPlain Ib di mana di dalam formulir pendaftaran program saving dana yang sudah terdakwa ubah/edit tersebut tidak terdapat kolom nama dan tanda tangan pejabat dariBank Maybank yang seharusnya turut melakukan verifikasi atas dokumen Bank Maybank yang terdakwa keluarkan.

Tahapan selanjutnya, terdakwa melakukan pengkinian atau pembaharuan data para nasabah berdampak dengan menggunakan handphone dan komputer yang ada di tempat kerja terdakwa dengan cara merubah nomor handphone para nasabahmenjadi nomor handphone yang ada dalam penguasaan terdakwa sehingga terdakwa dapat menguasai username, password dan juga TAC (Transaction Authorization Code).

Untuk mempermudah proses tersebut di atasdengan tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan dari para nasabah berdampak lalu terdakwa membuat M2U (internet banking) dari komputer kerja terdakwa dan menghubungkan semua transaksi nomor rekening para nasabah berdampak langsung ke Nomor yang telah dikuasai oleh terdakwa.

Untuk menguasai seluruh dana milik para nasabah berdampak, tanpa sepengetahuan saksi Emmy Siahaan dan saksi Jasinta Setiawati Susilo, terdakwa meminta bantuan kepada saksi Dewi Juwita (kakak kandung terdakwa) yang bekerja sebagai Customer Service (CS) di bank BRI Cabang Putri Hijau Medan,  untuk membuka rekening tabungan baru di bank BRI atas nama nasabah Emmy Siahaan dan Jasinta Setiawati Susilo (nasabah bank Maybank yang mengikuti program Maybank fiktif kepada terdakwa) dengan alasan jika para nasabah tersebut adalah teman terdakwa yang karena kesibukannya tidak dapat datang langsung datang untuk membuka rekening baru di Bank BRI.

Tanpa menaruh curiga, saksi Dewi Juwita menyerahkan formulir pembukaan rekening BRI kepada terdakwa yang selang beberapa hari kemudian terdakwa menyerahkan kembali formulir yang telah terdakwa isi dan tanda tangani sendiri atas nama saksi Emmy Siahaan dan saksi Jasinta Setiawati Susilo setelah proses pembukaan rekening di Bank BRI selesai, saksi Dewi Juwita menyerahkan buku rekening baru BRI atas nama Jasinta Setiawati Susilo dan Emmy Siahaan kepada terdakwa.

Adapun tujuan terdakwa membuka rekening Baru di Bank BRI adalah untuk mengalihkan, memindahkan dana dari rekening nasabah Maybank Emmy Siahaan dan Jasinta Setiawati ke rekening BRI atas nama saksi Emmy Siahaan dan saksi Jasinta Setiawati yang telah terdakwa kuasai buku dan ATM nya.

Perbuatan terdakwa Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 49 ayat (1) huruf a,c Undang Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor7 tahun 1992 tentang Perbankan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00