Kue Tepur Banda, Penganan Khas Melayu Deli

KBRN, Medan: Melayu Deli merupakan sebutan salah satu suku melayu yang berada di daerah Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.  Menurut Hikayat Deli, kata Melayu Deli berasal dari Kesultanan Melayu Deli yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di wilayah bernama Tanah Deli yang sekarang adalah Kota Medan dan Deli Serdang, kabupaten terdekat dengan ibukota Sumatera Utara ini.

Peninggalan Kesultanan Deli yang kita ketahui saat ini adalah Istana Maimoon, Mesjid Raya Al-Mashun, Mesjid Raya Al-Osmani dan Taman Sri Deli yang sudah dikenal sampai ke luar negeri.

Sebenarnya masih banyak peninggalan Kesultanan Deli lainnya, salah satunya kuliner asli tanah Melayu Deli, terutama kuliner pencuci mulut berupa kue basah. Kue ini biasa disajikan untuk acara Kesultanan Melayu Deli kala itu. Kalau saat ini kue khas tersebut dijadikan sebagai oleh-oleh saat hantaran pernikahan dan juga sering dijumpai saat bulan puasa sebagai pelengkap untuk makanan berbuka puasa.

Ciri khas penganan ringan ini adalah kuenya yang manis, legit dan lemak. Jadi tak heran kalau melihat kue tersebut teksturnya lembut dan sedikit berminyak.

Salah satu penganan ringan yang terkenal adalah Kue Tepur Banda.  Tepur Banda begitulah nama kue ini disebut oleh warga setempat yang masih mempertahankan nilai budayanya melalui kuliner. Tak lengkap rasanya kue Tepur Banda bila tidak disajikan di acara-acara yang khusus adat Melayu Deli. Kue Tepur Banda sekilas mirip dengan kue kemojo khas Riau. Ini mungkin karena pengaruh budaya Melayu yang kental dan saling berkaitan satu sama lainnya.

Kue khas ini memiliki penggemar saat di bulan puasa, bahkan warga pun tak segan untuk memesan kue sebanyak 1 loyang pada pembuat kue tradisional yang terkenal karena kue Tepur Bandanya. Kue tradisional Tepur Banda ini berbahan dasar tepung terigu, telur, santan gula dan daun pandan.

Kuliner penganan ringan khas Melayu ini harus tetap terpelihara dengan baik identitasnya agar bisa diturunkan ke generasi berikutnya sehingga akar tradisi tidak mudah terlupakan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00