'Silatengka' Bentuk Nyata Solidaritas Suku Karo

Makan bersama saat pesta adat suku karo (ilustrasi/int)

KBRN, Medan: Makan bersama adalah tradisi yang penting bagi masyarakat suku Karo. Tradisi makan bersama ini juga terus dilakukan seperti di acara adat, baik itu pesta pernikahan maupun upacara kematian. 

Dalam menjalankan tradisi makan bersama itu, masyarakat suku Karo yang terkenal mudah menerima dan bahkan akrab dengan perbedaan, tetap menjaga solidaritas mereka. Maklum saja, percampuran budaya dan agama dalam satu keluarga di masyarakat suku Karo, sudah jamak, bahkan lazim adanya. 

Pada masyarakat suku Karo di luar yang beragama Islam, saat melaksanakan acara pernikahan atau kematian, umumnya mengkonsumsi daging babi. Namun mereka pasti menyediakan menu lain untuk tamunya yang tidak bisa mengkonsumsi daging tersebut. Pada masyarakat suku karo, ini disebut sebagai 'Silatengka'. 

Antropolog, Elopran Evani Ginting, menjelaskan, Silatengka adalah kelompok orang-orang yang tidak dapat mengkonsumsi daging babi, anjing. Kelompok silatengka ini

akan di khususkan tempat makannya dan menu makannya pada saat acara makan di dalam suatu adat pernikahan atau adat kemartian. 

"Biasanya tempatnya berbeda dengan tempat orang-orang yang mengkonsumsi daging babi tersebut," tulis Elopran dalam laporan penelitiannya. 

Bentuk lain dari solidaritas orang Karo, kata Elopran, adalah mereka jarang memasak daging babi di rumahnya, hal ini di akibatkan mereka takut jika ada yang bertamu

kerumahnya dan tidak dapat mengkonsumsi daging tersebut maka mereka akan merasa bersalah. 

"Hal inilah yang menyebabkan rumah makan babi panggang Karo (BPK) sangat laris dimana-mana. Orang Karo yang Kristen memang mengkonsumsi daging babi, namun karena memikirkan saudara atau tetangganya yang beragama Islam sehingga mereka memilih mengkonsumsinya di rumah makan BPK serta jarang memasaknya di rumah sendiri," tukasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00