Penganiayan Terhadap Anak di Bawah Umur, EPZA: Pelaku Harus di Hukum Berat

KBRN, Medan : Kasus penganiayaan yang dialami SR, seorang anak dibawah umur, pelajar Pesantren Mustafawiyah yang diduga dilakukan oleh pegawai Rutan Kelas II B Kabupaten Mandailing Natal (Madina) inisial DG pada senin (20/9/2021) menuai kecaman dari praktisi hukum Sumatera Utara (SUMUT) Eka Putra Zakran, SH., MH (EPZA)

EPZA mengatakan bahwa tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh DG terhadap SR tidak dapat ditolerir dan wajib diproses hukum.

"Sebagai pejabat Rutan, pemukulan dan/atau penganiyaan tidak seharusnya dilakukan DG terhadap SR. Apalagi SR masih anak-anak, sementara masalahnya  pun sepele. Masa hanya gara-gara mobil DG keserempet becak SR, lalu kepala dan wajah SR bonyok dipukuli. Keterlaluan namanya itu" ujar Epza kesal

Epza menuturkan Kalau masalah sepele seperti itu, dari segi mana pun tidak pantas DG melakukan penganiyaan, kalaupun ada semacam kerusakan pada mobil DG, maka hal itu masih bisa dibicarakan baik-baik secara kekeluargaan dan bukan  main pukul. 

"Indonesia ini negara hukum, jadi siapapun dilarang melakukan tindakan main hakim sendiri (eigentrechten). Pokoknya gak boleh main hakim sendiri. Lagian gak setimpal kerusakan mobil dengan luka yang dialami SR pelajar Mustafawiyah tersebut.

Makanya perbuatan pelaku tidak dapat diltolerir dan harus dihukum berat. Apalagi pelaku kan ASN Rutan Madina, gak pantas melakukan perbuatan seperti itu" sebutnya

Ditegaskan, pelaku dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

UU ini ujar Epza mengatur   anak mendapatkan hak, perlindungan dan keadilan atas apa yang menimpanya. 

Epza menjelaskan,Pelaku penganiayan terhadap anak dapat dipidana penjara maksimal 5 tahun penjara dan apabila pelaku menyebabkan anak meninggal, maka dapat dikenakan sanksi hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sebelumnya, Berdasarkan keterangan Marlin ayah RS kepada media bahwa DG telah memukuli bagian kepala dan wajah anaknya, sehingga kepala dan wajah SR luka-luka. Bahkan bukan itu saja setelah puas memukuli anaknya, DG juga mengancam akan membunuh SR.

Mendengar peristiwa tersebut, warga disekitar Rutan pun sempat mendatangi rutan untuk meminta pertanggungjawaban kepada pelaku, akan tetapi pelaku DG tidak mau keluar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00