Dorong Pemkab Taput Implementasikan Green Economy, KAMI Taput Gelar Webinar 

KBRN, Medan : Sabtu, 18 September 2021 Kaum Milenial Indonesia Wilayah Tapanuli Utara menggelar Webinar Series Green Economy yang bertajuk "Membangun Ekonomi Lewat Sektor Pertanian", Sabtu (18/9/2021) yang menghadirkan Mantan Bupati Serdang Bedagai yang kini menjabat sebagai Duta Organik Asia Ir. H. Soekirman, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tapanuli Utara Linggos Pandiangan, Akademisi dari Fakultas Pertanian USU Ir. Yusak Maryunianta, MP, Pengamat Ekonomi Pertanian IPB University dan Dosen Ekonomi Pembangunan USU Drs. Murbanto Sinaga, MA, sebagai narasumber serta berbagai kalangan dari mahasiswa, OPD Taput, Petani Milenial Taput dan masyarakat. 

Ir. H. Soekirman dalam pemaparan materinya mengungkapkan bahwa pertanian harus selalu berintegrasi dengan peternakan seperti motto yang digunakan dan diyakini oleh Masyarakat Suku Batak Toba dalam kehidupan sehari-hari.

Dikatakan  bahwa kita hidup bersama di satu bumi, maka kita harus menjaga, merawat dan mewariskan bumi dengan baik kepada anak cucu kita. 

Untuk membangun pertanian yang berkelanjutan juga harus ada 4 K yakni Kesadaran, Kebijakan, Kelembagaan dan Kebersamaan. Kesadaran produsen konsumen dan pemangku kepentingan, mensosialisasikan kebijakan, revitalisasi dan empowering lembaga pertanian, serta kebersamaan antara seluruh elemen masyarakat, pemerintah, lembaga NGO dan lainnya. 

Indonesia harus kerja keras menekan angka kemiskinan melalui pertanian, mencegah kelaparan dan  mencapai ketahanan pangan. 

Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan Linggos Pandiangan menyampaikan bahwa Pertanian di Tapanuli Utara menjadi tulang punggung perekonomian, dimana kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi 43,31% dari total PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Tapanuli Utara Tahun 2020. 

Selain itu program yang dilakukan Pemkab Taput dalam mendukung Ekonomi Hijau lewat sektor pertanian adalah :  desa presisi (smart village), bantuan alsintan pra panen dan pasca panen, pengolahan lahan gratis, infrastruktur pertanian, dan bantuan sarana produksi pertanian seperti benih/bibit unggul pertanian, bibit ternak dan pupuk organik. 

Ir. Yusak Maryunianta, MP dalam paparannya menerangkan bahwa ekonomi hijau adalah ekonomi yang terus tumbuh dan memberikan lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan, tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan, khususnya fungsi ekosistem dan keragaman hayati, serta mengutamakan keadilan sosial. 

Sedangkan ciri ekonomi hijau antara lain Peningkatan investasi hijau, Peningkatan kuantitas dan kualitas lapangan pekerjaan pada sektor hijau, Peningkatan pangsa sektor hijau,  Penurunan energi/sumberdaya yang  digunakan dalam setiap unit produksi, Penurunan CO2 dan tingkat polusi per GDP yang dihasilkan, serta Penurunan konsumsi yang menghasilkan sampah (decrease in wasteful consumption). 

Ekonomi hijau di Indonesia secara sistematis memang belum dilakukan namun pelaksanaan produksi ramah lingkungan sudah dimulai di berbagai sektor/bidang. Pertanian sebagai sektor kegiatan ekonomi memiliki multiperan (nasional "wajah manis”), selain dalam pemanfaatan sumberdaya alam, juga dalam memberikan jasa lingkungan seperti: membudidayakan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk kebutuhan manusia secara berkesinambungan; melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati, menyediakan serapan karbon dan landscape hijau; pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat serta pendapatan nasional (PDB); menjadi rantai pasar bagi industri produk input pertanian (linkages). 

Menurut Ir. Yusak Maryunianta pertanian telah terbukti berperan dalam menyumbang swasembada beras pada tahun 1985, menyumbang  (2019-2020) 13,5-15 ,5% dari PDB nasional, 42,9-43,3% dari PDRB TU, menghasilkan pertumbuhan PDB pertanian nasional (2019-2020) tetap positif > 2 %, TU 2,3 %, lapangan pekerjaan bagi 30%  penduduk yg bekerja., TU> 80% dan menyumbang devisa sekitar USD 26,9 s/d 31,2 miliar/tahunnya. 

Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, Drs. Murbanto Sinaga, MA menilai dalam penerapan green economics, sosial cost atau biaya sosial yang harus ditanggung sangatlah besar apabila pertanian konvensional tidak bergeser ke penerapan ekonomi hijau. Ada neraca antara social cost dan social benefit. Pada kertas kerja dari bappenas Tahun 2007, disana diungkap jika kita bertahan pada ekonomi konvensional bukan pada ekonomi hijau maka 2030 emisi gas rumah kaca akan meningkat 6 derajat celcius.  Eksternalitas negatif lebih besar dari eksternalitas positif. Ekonomi hijau juga merupakan salah satu program dari Sustainable Development Goals (SDGs) dimana tujuannya memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan di masa mendatang. Jangan pula nanti yang kaya tambah kaya, yang miskin hanya tambah anak sebut Murbanto sambil bersenda gurau.  Eksternalitas negatif banjir, kebakaran hutan, kalau dirupiahkan sudah besar biaya yang ditanggung oleh seluruh masyarakat. 11 sektor dalam ekonomi hijau salah satunya pertanian dan harus saling berkaitan. 

Sementara narasumber terakhir, pengamat ekonomi pertanian IPB University Prima Gandhi, S.P., M.Si menerangkan bahwa adanya konsep green economy karena adanya peningkatan perdagangan, lonjakan konsumsi sumberdaya, serta sebagai upaya meminimalisir dampak buruk dari pertanian dengan konsep non green economy.  Menurutnya green economy merupakan sebuah rezim yang meningkatkan kesejahteraan manusia, dan kesetaraan sosial serta mengurangi resiko lingkungan secara signifikan. Green economy juga merupakan perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbon, dioksida dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. Tujuan dari pertanian berkelanjutan adalah untuk meminimalkan dampak buruk, keberlanjutan bukan hanya secara global, tetapi dalam waktu yang tidak terbatas dan untuk seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Praktik pertanian berkelanjutan umumnya meliputi rotasi tanaman yang mengurangi hama, serangga, gulma dan penyakit tanaman lainnya, menyediakan sumber alternatif nitrogen tanah, mengurangi erosi tanah, dan mengurangi resiko kontaminasi air oleh bahan kimia pertanian, mengurangi kebutuhan pestisida, peningkatan pengendalian gulma mekanis/biologis, praktek konservasi tanah dan air serta penggunaan input alami atau sintetis dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya yang berarti bagi manusia, hewan dan lingkungan (pertanian presisi). 

Ketua KAMI Taput Doni Rahmadi Butar-butar mengungkapkan tujuan dilaksanakan nya webinar ini sebagai sarana edukasi kepada seluruh peserta webinar, kampanye untuk menerapkan program ekonomi hijau, pertanian yang berkelanjutan demi mencapai pertumbuhan ekonomi hijau, mengetahui strategi dan tantangan dalam suksesi penerapan ekonomi hijau, pertanian yang berkelanjutan, pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00