Kejujuran Intelektual Hingga Sistem Pendidikan Pengaruh Lahirnya Plagiat

KBRN, Medan: Plagiat atau perbuatan menjiplak karya orang lain berpotensi terjadi di berbagai kalangan. Banyak faktor penyebab terjadi plagiat. Namun, banyak pula cara yang bisa dilakukan untuk menghindari perbuatan plagiat. 

Peneliti ahli utama LIPI, Obing Katubi mengatakan, penyebab faktor potensi terjadi plagiat adalah kejujuran intelektual yang dimiliki seorang peneliti. 

"Kejujuran intelektual faktor plagiat sering terjadi. Selain itu sistem pendidikan di Indonesia tidak diperkenalkan karya tulis ilmiah dalam proses pengajaran di kampus," ucap Obing saat dialog dalam program Lintas Medan Pagi RRI Medan, Jumat (22/1/2021). 

Selain itu, pengenalan dan pengajaran tentang karya ilmiah masih minim diajarkan di dunia pendidikan Indonesia.

"Harusnya di kampus sejak awal semester para mahasiswa di ajarkan cara penulisan karya ilmiah. Ajarin apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai kode etik karya ilmiah. Jadi, ketika mereka buat makalah karya ilmiah mereka paham dengan batasan yang ada," kata Obing. 

Seperti halnya dugaan kasus plagiarism yang terjadi di USU, harus merunut sesuai peraturan kementerian pendidikan dan kebudayaan jika ingin di bawah ke ranah hukum.

"Apapun yang terjadi sebuah lembaga menginduk di sebuah lembaga di atasnya. Kalau kampus induknya di bawah kementerian pendidikan. Jika kasus ingin di bawah ke ranah hukum, maka harus sesuai dengan peraturan UU nomor 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat," ucapnya. 

Di satu sisi, banyak faktor penyebab dugaan isu plagiat mencuat di USU. Obing tidak menapik, ada indikasi kepentingan politis yang dimanfaatkan kelompok tertentu dalam memanfaatkan momen. Disatu sisi, kasus plagiat yang dituduhkan kepada rektor USU juga harus diselesaikan dengan tuntas melalui tim investigasi yang independen.

"Kadang itu masuk ke ranah politis. Kita harus ketahui apakah itu isu yang dimasukkan kelompok lain. Jika benar ada indikasi (plagiat) harus di investigasi oleh lembaga independen," kata Obing.

Sementara anggota Majelis Wali Amanat (MWA) USU Dr Abdul Hakim Siagian mengatakan, konteks dugaan pelanggaran norma dan etika akademik yang disangkakan oleh rektor terpilih hasil kesimpulan tim penelusuran yang berasal dari lintas profesi dan keilmuan. 

"MWA mendengar laporan rektor. Informasi yang disampaikan rektor beliau tinjau tim penelusuran. Beliau juga minta pandangan komisi I dewan guru besar. Saudara Muryanto juga berikan penjelasan dan pembelaan. Dan akhirnya Muryanto diberikan sanksi," ucap Hakim Siagian. (Joko Saputra)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00