Isu Plagiat, Pelantikan Rektor USU Potensi Ditunda

KBRN, Medan: Majelis Wali Amanat (MWA) menegaskan ‎pelantikan Rektor terpilih Universitas Sumatera Utara (USU), DR. Muryanto Amin masih menunggu keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Karena, ada upaya banding administrasi di Kemendikbud terkait dugaan kasus Self Plagiarisme yang dilakukan rektor terpilih.

Sekretaris MWA, Prof.Guslihan Dasatjipta, di Kantor MWA USU di komplek Kampus USU, Senin (18/1/2021) siang menjelaskan salah satu calon Rektor, tidak pernah melakukan Self Plagiarisme.

"Tentang plagirisme tunggu keputusan (Kemendikbud). Syarat menjadi rektor ‎jangan pernah melakukan plagiarisme itu harus hilang. Karena, barang haram itu. Artinya, kita bicara orang ya. Pak Mury dituduh seperti oleh orang lain. Plagiarisme harus hilang diputuskan disana di Kemendikbud," jelas ‎Guslihan.

Guslihan menjelaskan bahwa seyogyanya pelantikan Rektor terpilih USU yang akan dilantik oleh MWA USU pada 28 Januari 2021. Bila Kemendikbud melakukan invesitigasi terkait kasus itu, otensi pelantikan bisa saja ditunda menunggu ada keputusan selanjutnya.

"Jadi, kalau sudah diputuskan. Baru lah dia dilantik. Keputusannya, tidak melakukan plagiarisme. Kalau tidak, cemana kita melantik, persyaratan rektornya tidak bisa dipenuhi," tutur Guslihan.

Jika pada 28 Januari belum ada keputusan dari Kemendikbud, Guslihan mengatakan bisa penunjukan pelaksana tugas (PLT) Rektor USU. Pelantikan Muryanto sebagai Rektor terpilih USU ditunda sementara sampai ada keputusan selanjutnya dari Kemendikbud.

"Diputuskan tidak plagiat, kita lantik. Tanggal 28 Januari 2021. MWA menunggu keputusan Kemendikbud, terkait pelantikan baru kita MWA. Kalau proses lama, bisa jadi PLT Rektor. Lewat tanggal 28 Januari, terjadi kekosongan rektor. Keputusan USU tidak dari Jakarta. Dari USU pun, bisa. Wakil Rektor bisa naik jadi Plt rektor," ungkap Guslihan.

Terkait surat keputusan Rektor USU nomor : ‎82/UN5.1.R/SK/KPM/2021 dan ditandatangani Rektor USU, Prof. Runtung Sitepu, pada 14 Januari lalu, Guslihan mengatakan sudah terima pada hari dikeluarkan.‎ Begitu juga Sekretariat FISIP USU sudah menerima salin tersebut.

‎"Salinan sudah kita terima, rapat MWA (pekan lalu) sudah menerima kita salinan SK itu. SK itu, keluar hari itu. Hari itu juga dikirim. Hasil rapat kita, sudah sampai sama dia (Muryanto) diterima bagian sekretariat FISIP USU," jelas Guslihan.

Ia menilai lebih baik jelek sekerang USU dan kasus Self Plagiarisme dituntaskan segera dengan keputusan Kemendikbud. Kemudian, SK Rektor USU itu sifat mengikat dan final. "Putusan Rektor USU, final dan mengikat, sudah ada kata-katanya final. Harus ada tim indipenden ‎kalau cerita banding. Keputusan Kementerian harus diputuskan tidak plagiat. Karena, Rektor USU memutuskan plagiat. Lebih baik, jelek sekarang dari pada jelek sepanjang tahun. Plagiarisme harus dibersihkan, saya tidak cerita orang. Kita tunggu putusan apa?, kita jalan, " tutur Guslihan.

Guslihan mengakui menerima laporan tim penelusuran kasus Muryanto tidak indipenden. Tapi, sepengetahuannya tim terdiri dari sejumlah guru besar, termasuk dari guru besar UGM.

"Tim disini bilang tidak idenpenden. Tapi, timnya ada guru besar UGM. Sudah dibuat nama-nama dari tim, tidak semua dari USU. Karena, legal opinian," katanya.

Di satu sisi, Guslihan menyayangkan sikap dari sejumlah Wakil Rektor USU, yakni Wakil Rektor I USU, Prof Dr Ir Rosmayati, Wakil Rektor II USU, Prof Dr dr Muhammad Fidel Ganis Siregar dan Wakil Rektor V USU, Ir Luhut Sihombing, MP. Yang dinilai ikut dalam lingkaran polemik ini.

"Baca statuta USU, masa aku punya pembantu 5 orang. Masa aku tanya-tanya sama pembantu. Rektor itu, pemimpin USU. Wakil Rektor sebagai pembantu Rektor. Semua tanggung jawab di Rektor, bukan wakil rektor. Cocok klen rasa, kalau pecah kongsi diam, bukan seperti itu. Karena, wakil rektor mengajukan adalah rektor ke MWA," tandasnya. (Joko Saputra)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00