'Simpang Jodoh' Pusat Kuliner Rujak Melegenda di Deliserdang

Rujak Simpang Jodoh (ist)

KBRN, Deliserdang: Rujak telah menjadi makanan rakyat jauh sebelum Indonesia merdeka. Tak heran jika di sejumlah daerah, ada lokasi-lokasikuliner rujak yang melegenda. Bahkan tak sedikit yang memiliki cerita-cerita unik dari sekedar kenikmatan menyantap buah dengan bumbu gula merah, kacang goreng dan sambal. 

Tak jauh dari Kota Medan, tepatnya di Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, terdapat kuliner bernama 'Rujak Simpang Jodoh'. Penamaan kuliner ini identik dengan nama tempat dan juga legenda dibalik penamaan tempat itu. 

Simpang Jodoh adalah nama salah satu persimpangan di Kecamatan Percut Seituan, yang menghubungkan antara Jalan Besar Tembung dan Jalan Pasar 7. Di persimpangan ini setiap harinya banyak pedagang yang menjajakan rujak berbahan buah-buah segar yang menarik pandangan mata bagi siapa saja yang melintas. 

Bukan tanpa alasan kawasan ini dinamai dengan Simpang Jodoh. Awal pada 1875, sebuah perusahaan membuka perkebunan di daerah ini. Sejak perkebunan itu dibuka, aktivitas masyarakat pun semakin berkembang.

Pada musim panen, orang-orang kampung setempat biasa mengirik padi di tempat satu tempat. Di tempat pengirikan padi itu, para pekerja perkebunan biasanya juga datang untuk mencari hiburan, untuk melepas penat dari rutinitas di perkebunan. Apalagi, saat gajian besar, malam harinya, pekerja kebun nongkrong di tempat pengirikan padi itu.

Tak disangka, banyak dari pekerja kebun dan warga setempat menemukan jodohnya. Dari pertemuan di tempat pengirikan itu, tumbuh cinta hingga berlanjut ke pelaminan. 

"Karena banyaknya orang menemukan pasangan hidup di tempat itu, lama-lama kawasan tersebut dinamai Simpang Jodoh," kata Novi salah seorang penjual rujak di Simpang Jodoh, Minggu (13/12/2020).

Sementara itu, Ros, menyebut kegiatan pedagang rujak di Simpang Jodoh dimulai tahun 1950-an. Ros sendiri merupakan generasi ketiga penjual rujak di Simpang Jodoh.

"Saya meneruskan dari ibu saya sejak tahun 2000-an. Sekarang makin ramai. Pembeli datang dari banyak tempat. Mungkin karena tempat ini semakin terkenal. Kami juga terus menjaga kualitas buah dan bumbu yang kami jual," tukasnya. 

Saat ini kata Ros, ada sekitar 40 pedagang yang masih berjualan rujak di Simpang Jodoh. Bisnis rujak ini merupakan usaha turun-temurun yang seluruhnya dilakukan oleh kaum perempuan. 

"Kami para penjual juga ada yang mendapatkan jodoh sama pembeli rujak di sini. Semoga tempat ini selalu berjodoh dengan kami," tandasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00