Penjualan Meningkat di Tengah Pandemi Covid-19

Seorang pekerja tampak sedang mengerjakan pembuatan bahan-bahan kelengkapan sepeda di Mahmud Bike Shop.
Pemilik Mahmud Bike Shop, Mahmudi, sedang menunjukkan sejumlah sepeda yang diperdagangkannya.

KBRN, Medan: Komunitas-komunitas anak muda, bahkan orang tua di Kota Medan belakangan ini sangat menggandrungi aktivitas naik sepeda.

Sekarang, sepeda tidak hanya sebagai sarana transportasi, tetapi menjadi salah satu instrumen untuk olahraga yang banyak digemari, terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

Sehingga, para pengusaha sepeda di Kota Medan mengaku kebanjiran pembeli. Sahuda mahmuda, seorang penjual sepeda mengatakan, sebelum Corona biasanya tiga atau empat unit, namun yang paling banyak itu bisa menjual sampai 20 unit dalam sehari.

“Tetapi pas awal Corona kemarin, atau saat pemberlakukan new normal pada bulan Mei dan Juni penjualan itu bisa mencapai 40-an unit,” kata Mahmudi saat ditemui di tokonya di Jalan Abdul Rahman Hakim, Sukaramai, Medan, Kamis (20/11).

Dia lanjut menceritakan, sekarang atau dua-tiga pekan ini penjualan sudah kembali seperti sebelum-sebelumnya. Malah, kata dia, kondisi sekarang ini lebih sepi sebelum wabah Corona menginfeksi Indonesia.

Menurut dia, mungkin masing-masing orang sekarang sudah mempunyai sepeda, sehingga pembelian tidak begitu ramai seperti bulan Mei hingga Juni lalu.

Rezeki memang tidak ke mana-mana. Bukan hanya penjualan sepeda milik Mahmud saja yang laris manis. Usaha bengkel sepeda yang sudah dia buka lima tahun lalu juga menjadi sasaran goweser.

Kata dia, sampai sekarang masih meningkat, tetapi tetap tidak seramai pada saat awal pandemi Covid-19. Pasalnya, mereka bahkan sempat melakukan pembatasan kepada pelanggan untuk memperbaiki sepeda ke bengkelnya.

“Alhamdulillah sampai sekarang perbengkelan masih meningkat bang, namun tidak seramai seperti saat new normal. Saat itu, kami sempat membatasi, karena sudah overload, kita kehabisan barang. Apalagi kita sekarang sedang kewalahan setelah keterbatasan sparepart atau suku cadang,” ucap pria yang akrab disapa Mahmudi itu.

Dia juga menyampaikan, bahan-bahan tidak terbatas hanya di Medan, namun juga hingga ke luar kota. Karena, mereka mengirim bahan, seperti ban luar sampai ke Jakarta hingga ke Kalimantan, apalagi pabrikan ban terbesar di Indonesia itu salah satunya kota Medan.

“Sampai-sampai barang kita dulu di sini hampir tidak ada lagi bang,” kata dia.

Selain menyediakan sepeda yang baru, bengkelnya juga melakukan restore barang–barang yang sudah lama.

“Bengkel kita juga bisa restore. Orang bisa membawa frame lamanya dan kita bisa rakit ulang, kita cat lagi, dan bahan apa yang mau dipasang bisa kita buat. Sehingga terlihat seperti yang baru,” tuturnya.

Dia menambahkan, mengenai harga jual sepeda di tokonya, mulai yang harga ratusan ribu hingga puluhan juta ada.

“Yang paling murah itu harganya Rp 400 ribu, dan yang paling mahal sekarang di sini Rp 30 juta,” tambah Mahmudi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00