Inovasi Penanggulangan Stunting dengan Aplikasi Emo-Demo

KBRN, Jakarta : Asupan makan, praktik kebersihan hygiene sanitasi, dan pola asuh berpengaruh pada kejadian stunting. Berdasarkan penelitian dalam penelitian food diaries diketahui bahwa pola konsumsi masyarakat Jember pada pangan instan (mie instan, sosis, bumbu instan) dan bahan tambahan pangan berbahaya (penyedap, pemanis, pewarna buatan) tinggi. Minggu (27/10/2019).

Pakar Gizi Masyarakat Ninna Rohmawati, M.Kes, MPH pada acara  pelatihan pengembangan produk berbasis daun kelor dan ikan lele menjadi berbagai produk padat gizi di Raudhatul Athfal (RA) Nuruzzaman, Desa Paluombo, Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjelaskan Prevalensi stunting umur 5-12 tahun sebesar 30,7 %, Berdasarkan pengukuran status gizi tahun 2017 pada 119 anak usia sekolah di Kecamatan Ledokombo, terdapat 40 anak (34 %) menderita stunting. Tingginya prevalensi stunting menjadi prioritas yang harus diselesaikan dengan sumber pangan lokal yang melimpah serta tinggi kandungan gizi, yaitu daun kelor dan ikan lele. 

"Di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, pohon kelor tumbuh subur dan hasilnya melimpah, tetapi belum ada upaya diversifikasi pangan", ungkap Ninna.

Disebutkan Ninna, salah satu contoh yang  dilakukan RA Nuruzzaman Jember  dengan  memiliki kantin sehat, namun seiring perjalanan waktu terdapat masalah yang dihadapi yaitu masalah dalam penyediaan dan pengembangan produk pilihan makanan sehat yang dijual. 

"Diharapkan dengan pelatihan pengembangan produk berbasis daun kelor dan ikan lele menjadi berbagai produk padat gizi hasil penelitian dari tim pengusul, dapat meningkatkan produktivitas kantin sehat RA Nuruzzaman serta meningkatkan status gizi anak usia sekolah RA Nuruzzaman, khususnya", harap Ninna

Selain itu juga masalah hygiene sanitasi, serta masih sulitnya membuat anak didik (dan wali murid) untuk berpindah dari jajanan pabrikan ke menu jajanan sehat yang disediakan oleh kantin, karena anak-anak sudah lama terbiasa dengan jajanan pabrikan yang memang dengan mudah didapatkan, rasanya enak, dan lebih murah. 

"Masalah ini akan diatasi dengan aplikasi modul Emo-Demo. Modul emo-demo terbukti mampu merubah perilaku pola asuh menjadi lebih baik dan anak mau mengkonsumsi makanan sehat", jelas Nenna yang didampingi Dr. Dewi Rokhmah, S.KM., M.Kes dam Anita Dewi M., S.KM., M.Kes.

Kegiatan yang dilakukan adalah:

Pelatihan dan pendampingan pembuatan produk berbahan dasar daun kelor

Produk berupa Biskuit Kelor, Cilok Sehat, Mie Sehat, dan Nugget Kelor yang memiliki kadar zat gizi tinggi dapat dijadikan solusi dalam masalah gizi stunting. Produk ini diharapkan dapat terus dijual di kantin sehat RA  Nuruzzaman dan dikembangkan lebih lanjut menjadi produk inovatif lainnya.

pelatihan dan pendampingan hygiene sanitasi kantin sehat penyadaran orang tua murid melalui teknik modul Emo-Demo sebagai upaya merubah perilaku pola asuh orang tua kepada anak menuju pemberian makanan yang sehat dan bergizi. Bersama Narasumber pakar Gizi Masyarakat, pakar Kesehatan Lingkungan dan pakar Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

Ditambahkan, keberlanjutan program dapat tetap berjalan (sustainable). Kantin sehat berkelanjutan dapat berperan dalam penurunan prevalensi stunting sehingga terwujud generasi yang sehat, bermanfaat, dan berprestasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00