KPPU Belum Temukan Praktik Kartel Pada Kenaikan Harga Kedelai

Kepala Kanwil KPPU Sumut, Ramli Simanjuntak memeriksa gudang milik importir kedelai di Medan. Pemeriksaan ini dalam rangka memastikan tidak ada pelanggaran persaingan usaha yang dilakukan importir di tengah tingginya harga jual kedelai saat ini (ist)

KBRN, Medan: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) belum menemukan adanya praktik kartel dalam fenomena kenaikan harga kedelai yang kini melambung tinggi di Sumatera Utara.

Hal itu dikatakan Kepala Kantor Perwakilan KPPU Sumatera Utara, Ramli Simanjuntak kepada RRI, Rabu (6/1/2021). 

Ramli menyebutkan dari hasil pantauan mereka ke pasar, distributor hingga ke importir kedelai di kawasan Mabar, proses pembentukan harga kedelai masih terjadi secara alamiah dan wajar  sesuai mekanisme pasar. Bahkan di tingkat importir harganya jauh dibandingkan harga pasar / yakni masih di 8850 per kilogram. Stok para import juga disebut Ramli masih akan aman hingga 14 Januari mendatang. 

Meski demikian Ramli tak memungkiri jika di pasar saat ini harga kedelai melonjak hingga mencapai 11 ribu rupiah per kilogram. Kenaikan ini terjadi karena menurunnya pasokan dari distributor ke pasar.

"Ini yang sedang kita dalami, apakah distributor memainkan harga sehingga jauh sekali antara harga di tingkat importir dengan harga di pasar. Kita juga masih akan cek 3 importir lainnya. Tapi sejauh ini pembentukan harga masih sesuai mekanisme pasar," sebutnya. 

Sebelum terjadi kenaikan, harga kedelai di Sumatera Utara dijual di kisaran harga 6500 rupiah per kilogram. Namun belakangan naik menjadi 9300 rupiah per kilogram dan kini melonjak mencapai 11 ribu rupiah. Sementara di pasar harga global kedelai juga mengalami kenaikan seiring berkurangnya panen di Argentina dan Amerika Serikat. Saat ini kedelai di pasar global dihargai 13 dolar per bushels atau sekira 25 kilogram. Naik dari sebelumnya yang hanya 8 dolar per bushels.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00