Buah Tempayang,   Primadona Baru Komoditas Pertanian Ekspor Asal Sumut

KBRN,  Belawan   : Masa pandemi membawa angin segar bagi buah tempayang (Fismiana affinis), pasalnya jika sebelumnya hanya diminati pasar domestik kini buah dalam bentuk kering berwarna kecoklatan seperti biji melinjo itu  laris di pasar ekspor.

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan mencatat dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST sepanjang Januari hingga Juni 2020 buah tempayang sebanyak 80 ton dengan nilai Rp. 2 miliar ke tiga negara masing-masing  Malaysia, Vietnam dan India.

"Tren permintaan fasilitasi ekspor komoditas ini terus meningkat setelah perdana di ekspor dimasa pandemi," kata Kepala Karantina Pertanian Belawan, Hasrul melalui keterangan tertulisnya, Kamis (8/9).

Menurut Hasrul, sebagai komoditas baru pihaknya melalukan serangkaian tindakan karantina guna memastikan kesehatan dan keamanan buah tempayang sesuai dengan persyaratan masing-masing negara tujuan.

Hasrul j menyebutkan  persyaratan ini dapat juga lihat pada website International Plant Protection Convention (IPPC). " Tindakan pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Selanjutnya pemeriksaan sanitasi gudang penyimpanan dan kontainer juga tak luput dari mitigasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)" Ujar Hasrul  

Ketelusuran produk kata Hasrul  dilakukan ,  guna memastikan komoditas buah tempayan  telah ditangani dengan baik.

Hasrul mengatakan , Buah tempayan  dipercaya masyarakat  memiliki  berbagai khasiat , diantaranya  biasa digunakan sebagai obat panas dalam pada balita, obat batuk akut, radang tenggorokan,  bahkan dapat meningkatkan kesuburan.  " Didaerah lain, ada juga yang menyebutnya sebagai kembang semangkuk.  Dalam kondisi pandemi saat ini, informasi khasiat buah ini pun sampai ke negara lain sehingga mulai menjadi primadona komoditas ekspor baru"  unkap Hasrul

Fasilitasi Ekspor Karantina, Dorong Gratieks

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengapresiasi munculnya primadona ekspor baru asal Sumut ini. Untuk itu sesuai dengan peran sebagai fasilitator pertanian di perdagangan internasional,  pihaknya akan mengawal pelaku usaha dan petani dalam memenuhi persyaratan teknis, sanitari dan fitosanitari bagi komoditas pertanian ekspor. " Hal ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) untuk mendorong peningkatan ekspor hingga tiga kali lipat hingga tahun 2024" kata  Jamil

Barantan bertugas untuk memastikan gerakan ini dapat mencapai target yang telah ditetapkan baik pada bidang on-farm dan off-farm.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00