Ironi AKAP Di Tengah Larangan Mudik

46_1.jpg

KBRN, Medan: Seluruh pihak tanpa kecuali harus mematuhi aturan larangan mudik yang ditetapkan Pemerintah Serta pengetatan  syarat bepergian sebelum dan sesudah tanggal larangan mudik. Larangan mudik dilakukan untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran Covid 19.

Namun larangan mudik ini menyisakan ironi bagi armada transportasi darat. Setidaknya ada 1000 armada bus AKAP di Kota Medan ini harus dikandangkan. Jika dikalikan empat , ada sopir dan kernet maka aka nada 4000 warga masyarakat yang tidak berpenghasilan selama larangan mudik berlangsung. Efek dominonya tentu akan berlipat karena akan ada awak angkutan dan anak istri di dalamnya.

Ketua Organda Kota Medan menyatakan sudah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah melalui OPD terkait di Medan maupun Sumut, namun belum ada tanggapan. Awak bus melalui organda tentu berharap ada bantuan sosial ataupun subsidi bagi mereka selama bus tidak beroperasi.

Pemerintah sejatinya  menggelontorkan berbagai skema bantuan untuk membantu masyarakat selama pandemi Covid-19. Dana triliunan rupiah itu dikucurkan untuk program jaring pengaman sosial. Berbagai bantuan ini diharapkan bisa meringankan beban masyarakat yang ekonominya terdampak pandemi. Jenis bantuanpun beragam ada bantuan sembako, bantuan sosial tunai, BLT dana desa dan beragam bantuan lainnya.

Apakah tidak mungkin para awak bus beserta keluarganya ini diupayakan untuk mendapatkan bantuan ini, semoga keluhan warga masyarakat ini didengar oleh pihak terkait, agar mereka juga dapat merayakan hari kemenangan Idul Fitri meski di tengah pandemi.

Editorial ditulis oleh: Fetika Andriyani

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00