Tak Ada Pilihan Untuk Jenazah Covid

ilustrasi

KBRN, Medan : Kasus virus Corona terus mengalami lonjakan peningkatan secara global, termasuk Di Indonesia// Sebagai mana  Data dipublikasikan   oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di laman Kementerian Kesehatan, virus Corona  atau Covid-19  yang muncul di Indonesia sejak Awal maret tahun 2020 itu , telah menginveksi  939 ribu 948  orang hingga  hari ini 20 Januari 2021 ,  dari jumlah itu  763.703 diantaranya sembuh dan 26.ribu orang  Meninggal Dunia . Situasi pandemi Virus ini   tidak hanya berpengaruh terhadap aspek kesehatan dan kematian ,tapi  juga menghantam aspek lainnya seperti ekonomi , pendidikan dan sosial , serta dampak psikologis dan perubahan perilaku masyarakat

Aspek sosial dan komunikasi masyarakat menjadi tak terkendali semenjak merebaknya virus ini.,  Informasi penularan virus yang tidak transparan menyebabkan masyarakat menjauhkan diri dari interaksi sosial dan menjadi mudah  mendiskriminasi  orang-orang yang dianggap berpotensi terinfeksi virus, pola hidup,  perilaku , sampai kebiasaan masyarakat mulai berubah, telah memperparah situasi dan menimbulkan kepanikan ditengah masyarakat. Bahkan Keresahan masyarakat ini bukan hanya menyebabkan diskriminasi terhadap orang- orang yang berpotensi sebagai carrier atau pembawa virus dan keluarganya.

Pasien positif yang dinyatakan meninggal akibat  virus covid 19  pun diperlakukan tidak baik oleh masyarakat . Banyak jenazah yang meninggal akibat virus COVID-19 yang ditolak untuk dikuburkan di dekat area pemukiman warga,  Hal ini terjadi karena warga setempat ketakutan akan terjadi penularan virus yang berasal dari jenazah tersebut//  Aparat pemerintahan setempat juga tak jarang juga ikut serta dalam penolakan jenazah di wilayah mereka, padahal seharusnya  sikap penolakan itu tidak  perlu terjadi ,  jika  masyarakat  mendapatkan   informasi yang akurat tentang bagaimana  penularan atau penyebarannya dan cara pencegahan mengenai virus itu .

 Selain penanganan pasien yang meninggal karena Positif COVID-19 dilaksanakan sesuai Protokol  dan SOP Satgas Kesehatan oleh Petugas yang menggunakan  APD lengkap  , prosesi pemulasaran dan Pemakaman  jenazah pasien COVID-19 yang muslim  juga dilakukan sesuai pardu kifayah oleh petugas kesehatan beragama Islam yang ditetapkan pemerintah . Sedangkan untuk  pasien  yang meninggal  karena Positif COVID-19 yang beragama Kristen,   penangananya mengikuti SOP Panduan Pelayanan dan Ibadah Perkabungan Warga Gereja Positif COVID-19 yang dikeluarkan oleh PGI .

Sejak WHO menyatakan COVID-19 yang menyerang sistem pernafasan ini sebagai pandemi, juga  telah disampaikan  dalam  Salah satu pesannya bahwa penyebab kesembuhan orang yang terinfeksi virus Corona  adalah dengan memberikan informasi yang baik dan Positif  .  Untuk itu  Tidak perlu  menolak Pemakaman  Jenazah yang meninggal karena Covid dengan alasan ada kekhawatiran jenazah akan menularkan penyakit  ,  karena  Pemulasaran dan Pemakaman jenazah pasien Covid-19 diperlakukan sebagai kasus infeksius yang  memenuhi Standar Aman .   Sebenarnya  bagi mereka  yang  menolak pemakaman  jenajah pasien covid  ini,  ada sanksi Pidananya   sebagai mana  Pasal 178 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUHP yang berbunyi  :

Barang siapa dengan sengaja merintangi atau menghalang-halangi jalan masuk atau pengangkutan mayat ke kuburan yang diizinkan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak satu juta delapan ratus ribu rupiah// Delik pasal tersebut adalah delik biasa,sehingga  aparat penegak hukum dapat langsung melakukan tindakan tanpa ada yang mengadukan terlebih dahulu.

Ketidakpahaman dan informasi yang simpang siur tentang penyebaran virus   Corona dan prosedur pemakaman jenazah  yang meninggal  akibat terjangkit covid-19,  membuat masyarakat mengabaikan  nilai-nilai kemanusiaan .Meskipun hukumannya Ringan , Namun    Aparat Hukum   perlu pemproses  dan  menindak tegas Warga yang  penolak  Pemakamam Jenazah Covid-19 , karena mereka  bukan Penjahat tapi Korban  Keganasan  Virus  .

Editorial ditulis oleh Rahmi Siregar

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00