Usia 18 – 35 Tahun Rentan Terinfeksi HIV/AIDS

KBRN, Medan: Peringatan hari AIDS sedunia pada 1 Desember ini, menjadi renungan bagi seluruh masyarakat dunia termasuk Indonesia untuk sama – sama memahami kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS. Penyakit yang diakibatkan oleh virus HIV ini memang masih menjadi perhatian serius bagi dunia kesehatan karena sampai saat ini belum ditemukan obat ataupun vaksin penyembuh. Saat ini Orang Dalam HIV/AIDS (ODHA) masih mengonsumsi Antiretroviral  (ARV) secara rutin dan tepat waktu, minimal memberikan harapan bagi penderita untuk bisa bertahan hidup.

Setiap tahunnya, jumlah penderita ODHA di setiap daerah terus bertambah, termasuk di Sumatera Utara. Direktur Yayasan Medan Plus, Erwin mengatakan Jumlah terinfeksi Orang Dalam HIV/AIDS (ODHA) di Sumut yang terdeteksi hingga saat ini mencapai 9.362 kasus. Laki – laki masih mendominasi kasus tertinggi terinfeksi ODHA dengan jumlah 7.187 kasus (3.144 HIV/4.043 AIDS). Selebihnya perempuan 2.175 ODHA (1.038 HIV/1.137 AIDS). Sedangkan dari pendampingan yang dilakukan oleh Yayasan Medan Plus saat ini mencapai 7.548 kasus. “Yang sudah kita dampingi sekitar 7.548 orang dengan peringkat ke 7 sesudah Bali,” ucap Erwin saat dialog bersama RRI Medan, Selasa (01/12) pagi. 

Dikatakan Erwin usia produktif yang rentan terinfeksi virus HIV/AIDS adalah kelompok umur 18 sampai 35 tahun. Dari data yang diperoleh,untuk golongan umur paling banyak didominasi 30-39 tahun dengan jumlah 3.842 ODHA (1.761 HIV/2.081 AIDS). Kemudian, umur 19-29 tahun 3.636 ODHA (1.471 HIV/2.165 AIDS) dan 40-49 tahun 1.242 ODHA (630 HIV/612 AIDS).

Kemudian dikatakan Erwin, faktor risiko terinfeksi virus HIV/AIDS dikatakan Erwin untuk hubungan seks menunjukkan angka yang terbanyak dengan jumlah heteroseksual 7.376 ODHA (3.187 HIV/4.189 AIDS). Kemudian pemakaian narkoba suntik 1.118 (505 HIV/683 AIDS), transfusi darah 84 (38 HIV/46 AIDS), anak yang terinfeksi dari ibu atau perinatal 122 (81 HIV/41 AIDS). Kemudian ibu rumah tangga (IRT) 87 (71 HIV/15 AIDS), biseksual 55 (13 HIV/42 AIDS) serta hetero & IDUs: 141 (92 HIV/49 AIDS). Namun dikatakan Erwin, jumlah ODHA di Sumut masih banyak yang belum terdeteksi karena masih banyak ODHA yang takut untuk dilakukan pendampingan.

“Kalau dibilang berapa banyak yang belum terdeteksi pastinya fenomena ini kan seperti gunung Es. Jadi secara estimasi, 1 ODHA di temukan 100 yang hiden. Usia produktif yang rentan antara 18 sampai 35 tahun,” kata Erwin.

Meski penderita ODHA sangat rentan menularkan penyakitnya kepada orang yang masuk kelompok rentan, namun dikatakan Erwin masyarakat harus menghilangkan stigma negatif kepada para penderita ODHA khususnya yang terinfeksi. Erwin berharap keberadaan ODHA dapat diterima di tengah – tengah masyarakat guna meningkatkan kepercayaan diri mereka. “Cara menghilangkan stigma negatif yang kita berdayakan komunitas ODHA agar mereka sehat dan percaya diri. Harapannya kalau mereka percaya diri mereka produktif. Kedua, mengkondusifkan lingkungan bahwa masyarakat bisa menerima para ODHA di lingkungan tersebut,” karta Erwin.

VIRTUAL Di Tengah Covid

Pandemi Covid -19 yang mewabah Indonesia sejak maret 2020, memang menjadi kendala bagi Yayasan Medan Plus dalam mengkampanyekan HIV/AIDS kepada masyarakat. Namun, kehadiran media sosial masih menjadi solusi bagi pihaknya tetap aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk sama – sama waspada terhadap penularan HIV/AIDS.

“Strategi kita Medan Plus (sosialisasi) sampai hari ini kalau memungkinkan face to face dilakukan, tapi, di tengah pandemi Covid -19 kita gunakan strategi virtual dengan jangkauan melalui media sosial atau webinar untuk menjangkau teman – teman atau populasi kunci,” jelas Erwin.

Pandemi Covid -19 juga menghambat bagi para ODHA untuk mengakses obat ARV ke rumah sakit karena adanya batasan layanan. Hal itu yang membuat para pendamping dari Medan Plus aktif melakukan koordinasi dengan petugas pelayanan kesehatan ikut mendistribusikan obat tersebut kepada ODHA, bahkan hingga dikirim ke rumah pasien.

“Pasti ada (kendala Covid -19). karena kemarin ada batasan layanan untuk kunjungan pasien. bagi mereka yang mengakses obat rutin setiap bulan karena dia takut ke rumah sakit karena terpapar Covid. dia koordinasi dengan pendamping kita supaya obatnya bisa mereka akses. Makanya, teman – teman dari Medan Plus melalui pendukung dan pendamping berkoordinasi dengan petugas pelayanan kesehatan untuk membantu menagmbilkan obat klien atau sampai dikirimkan ke rumah klien,” jelas Erwin.

RUMAH SINGGAH

Sampai saat ini, pihaknya jgua masih menunggu realisasi dari Pemerintah Kota Medan untuk bisa menyediakan rumah singgah bagi ODHA, khususnya yang berasal dari luar Kota Medan. Kehadiran rumah singgah sangat penting bagi ODHA sebagai transit maupun inap sementara saat melakukan pengobatan ke Rumah Sakit yang membutuhkan waktu lebih dari satu hari.

“Pengajuan kita untuk rumah singgah oleh Pemko Alhamdulilah belum. Fugnsi rumah singgah bisa fasilitasi teman – teman ODHA dari luar kota yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit perlu sebagai temapt transit selama menjalani pengobatan di Medan. Karena tidak semua ODHA latar belaang perekonomian baik. Terutama anak – anak dengan HIV yang tidak lagi memiliki orang tua atau orang tua tidak menerima lagi,”  ucapnya.

Erwin juga menginginkan agar penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS lebih rutin dilakukan tidak hanya oleh dinas terkait seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. melainkan jajaran OPD dan elemen harus turut mendorong program pemerintah tahun 2030 Indonesia zero kasus baru HIV/AIDS.  “Komitmen dari pemerintah provinsi, Kabupaten/kota bisa lebih peduli lagi dengan menganggarkan program untuk penaggulangan HIV. Karena HIV ini bukan isu Dinas Kesehatan dan sosial, tapi keterlibatan semua elemen dan SKPD sangat dibutuhkan. Suka tidak suka, pastinya ada keterkaitan di semua SKPD. jangan sampai menunggu saudaranya tertular baru peduli,” harapnya. (Joko Saputra) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00