Tolak Omnibus Law, Buruh Sumut Ancam Aksi Besar

KBRN, Medan : Rencana pemerintah menerbitkan Undang-Undang Cipta Lapangan Pekerjaan yang disebut Omnibus Law mendapat penolakan keras dikalangan buruh, salah satunya elemen buruh yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Provinsi (DPW FSPMI) Sumatera Utara (Sumut).

Ketua DPW FSPMI Sumut Willy Agus Utomo mengatakan, pihaknya akan menggelar aksi besar-besaran pada 20 Januari 2020 mendatang dengan menurunkan ribuan buruh. Aksi akan dipusatkan di Kantor Gubernur dan gedung DPRD Sumut.

"Aksi ini serentak secara nasional, dipusatkan di DPR RI. Untuk Sumut kita akan geruduk kantor gubernur dan DPRD Sumut, massa buruh di perkirakan ribuan buruh," kata Willy di Medan, Kamis (16/1/2020).

Willy berharap pemerintah mendengarkan aspirasi kaum buruh untuk menolak pembahasan omnibus law. Sebab, menurut kajian FSPMI, secara substansi Omnibus Law cenderung merugikan kaum buruh.

“Kami menilai Omnibus Law tidak akan meningkatkan investasi. Tetapi justru akan menurunkan tingkat kesejahteraan kaum buruh, sehingga mereka menjadi miskin,” ujarnya. 

Menurut Willy, Omnibus Law hanya akan menghilangkan upah minimum, menghilangkan pesangon, outsourcing dan kontrak kerja yang bebas (fleksibilitas pasar kerja), serta masuknya TKA yang tidak memiliki skill. Selain itu  juga menghilangkan jaminan sosial dan dihapuskannya sanksi pidana bagi pengusaha yang tidak memberikan hak-hak buruh.

“Omnibus Law bukan cara terbaik untuk meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja. Sebaliknya, Omnibus Law merupakan cara terbaik untuk menghancurkan kesejahteraan para pekerja, maka kami menolaknya," tegas Willy.

Sekretaris DPW FSPMI Sumut, Tony Rickson Silalahi berharap elemen serikat pekerja / serikat buruh lain dapat bergerak bersama menolak Omnibus Law dalam aksi tersebut.

"Kita sudah berkomunikasi dengan elemen buruh lain di Sumut. Kemungkinan aksi nanti tidak hanya buruh dari FSPMI, tapi seluruh serikat buruh di Sumut semoga ikut bergerak," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00