Warga Sumut Wajib Tes HIV Sebelum Menikah, Rata – Rata Tertinggi Nasional

KBRN, Medan: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara telah mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang regulasi penanggulangan HIV dan AIDS, guna mendukung program pemerintah menuju three zero pada tahun 2030. Salah satu regulasi dalam perda tersebut dengan mewajibkan calon pengantin menjalani tes HIV.

Menanggapi hal itu, warga Medan Johor, Sabriandi Erdian tidak mempermasalahkan lahirnya perda tersebut. Hanya saja, informasi status kedua calon pengantin harus bisa ditutup ke publik jika statusnya positif HIV.

“Dengan kondisi sekarang ini hal yang wajar, karena penularan HIV itu banyak termasuk dalam hubungan seksual. Tapi, pihak MUI harus memberikan fasilitias khusus seperti informasi tersebut harus off the record. Cukup calon pengantin yang tahu status mereka,” ujar Andi, Rabu (1/12/2021).

Hal yang sama juga dikatakan Warga Medan Sunggal, Maulani Mayang Sari. Menurut Mayang praturan tersebut sangat baik terutama dalam menjaga keselamatan kesehatan kedua calon termasuk keturunan mereka nantinya. “Saya setuju sih kalau setiap orang menikah wajib diperiksa HIV dahulu karena untuk menjaga keselamatan masing – masing. Tiba – tiba kalau sudah menikah, takutnya kenak virus gitu kan kasian nanti kalau mereka punya anak,” ucap Maulani Mayang Sari.

Rencana keluarnya Perda tersebut juga dibenarkan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut, Ikrimah Hamidy. Bahkan Perda sudah disahkan DPRD Sumut dan saat ini masih digodok di kementerian kesehatan.

“Kita memang sudah punya peraturan gubernur nomor 22 tahun 2014 tentang penanggulangan HIV/AIDS. Kita tingkatkan menjadi peraturan daerah yang baru sidangkan DPRD pada 15 Oktober kemarin. Sekarang masih berproses di kementerian. Jadi, setelah turun ke daerah, kita punya waktu enam bulan baru bisa diterbitkan peratuan gubernur,” ungkap Ikrimah.

Wajib tes HIV bagi calon pengantin memang segera dilakukan guna upaya mencegah peningkatan paparan. Apalagi di Sumut saat ini, usia antara 19-39 tahun yang paling rentan terpapar HIV dengan presentase 80 persen. Angka ini bahkan melebihi rata – rata nasional yang hanya bekisar 70 persen.

“Karena jumlah yang terpapar itu semakin banyak dan kalau untuk di Sumut total 13 ribu tersebut itu, 80 persennya rentang usia antara 19-39 tahun. Kalau secara nasional dalam lima tahun terakhir rata – rata hanya 70 persen,” ujar Ikrimah.

Namun, regulasi tersebut dikatakan Ikrimah bukan menjadi syarat wajib menikah bagi mereka. Hal itu, hanya untuk membantu keduanya mengetahui status kesehatan termasuk terpapar HIV. “Makanya dalam perda tersebut kita buat regulasi mewajibkan calon pengantin itu dilakukan tes HIV dulu sebelum menikah. Bukan berarti nanti ketika ada yang positif salah satunya kemudian nikah batal, tidak. Kita hanya ingin mengurangi tingkat kepaparan. Jangan sampai ketika menikah itu sudah ada yang terpapar,” tegasnya.

Sementara Direktur Lembaga Medan Plus, Erwin mengatakan wajib tes HIV juga sangat baik untuk mempersiapkan calon pengantin yang sehat dan terbebas dari HIV. Termasuk menyelamatkan keturunan mereka setelah menikah nanti.

“Itu juga untuk mempersiapkan calon pengantin yang sehat. Jadi tidak hanya status HIV nya yang di tes. Istilahnya menciptakan pasangan yang sehat sehingga mereka berencana memiliki keturunan bisa diantisipasi. Termasuk perlakuan khusus bagi mereka jika ternyata positif,” ungkap Erwin.

Berdasarkan dari data kementerian kesehatan sumber penyebaran tertinggi virus HIV adalah melalui pasangan resiko tinggi yaitu mereka yang sudah terpapar memiliki pasangan. Secara nasional dari 76.445 orang yang diperiksa, 3.852 orang terpapar HIV atau sekitar 5,04 persen.  Jumlah ini ternyata lebih tinggi dibanding Wanita Penjajah seks. Dari 92.612 yang menjalani tes,  2.243 dinyatakan positif atau setara dengan 2,42 persen. (Joko Saputra)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar