Tingkat Kepedulian Masyarakat Indonesia Terhadap HIV/AIDS  

KBRN, Medan: Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mencanangkan pada tahun 2030 Indonesia bisa bebas dari HIV/AIDS atau mencapai three zero. Thre zero yang dimaksud yakni bebas dari kasus terinfeksi HIV, tidak ditemukan kasus kematian akibat AIDS, dan hilangnya stigma atau diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA).

 Direktur Medan Plus, Erwin mengatakan untuk mewujudkan Indonesia bebas HIV/AIDS 2030 tentu banyak tantangan yang muncul. Satu diantaranya adalah kepedulian masyarakat untuk mencari tahu atau memahami tentang penyebaran HIV masih sangat rendah. Padahal, dengan adanya pemahaman masyarakat terhadap HIV dan AIDS, tingkat resiko tertular virus tersebut sangat rendah.

 “Tahun 2020 ada penelitian kecil yang dikembangkan di Indonesia terkait pengetahuan informasi masyarakat tentang pemahaman HIV dan AIDS itu jumlahnya hanya 17 persen. Itu menunjukkan bahwa tingkat ketidakpedulian masyarakat untuk mau mencari informasi HIV/AIDS itu secara baik dan benar sangat minim,” ujar Erwin , di kantor KPA Sumut, Selasa (30/11/2021).

 Kesulitan tidak hanya bagaimana mengedukasi masyarakat agar paham tentang HIV/AIDS, namun juga ketika petugas pendamping ODHA di pusat layanan harus benar – benar bisa mengembalikan rasa kepercayaan diri kliennya tentang kondisi yang mereka alami saat ini.  

 "Minimal mereka bisa menerima dirinya dalam kondisinya yang sekarang ini. Karena proses orang yang baru di diagnosa HIV, pasti nomor satu yang dipulihkan adalah memulihkan kepercayaan dirinya. Jadi pendampingan terhadap klien tidak cukup 2-3 sekali. Kita juga harus mengontak keluarga mereka untuk bisa memberikan motivasi sendiri,” katanya. 

 Sejauh ini dikatakan Erwin, untuk pola pendampingan yang dilakukan pendukung sebaya atau Medan plus di 10 kabupaten/kota berbasis layanan. Para pendukung sebaya secara langsung jemput bola di pusat layanan dukungan perawatan dan perobatan bagi ODHA. Namun, terkadang masih ada stigma dan diskriminasi terjadi selama pendukung sebaya terhadap klien.

 "Teman - teman di pusat layanan kesehatan juga masih banyak merasakan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Makanya banyak juga dia pindah layanan dari satu kota ke kota lain. Karena mereka tidak ingin statusnya dibuka di khalayak umum,” ungkapnya. (Joko Saputra)

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar