Webinar KAMI, Percepatan Vaksinisasi di Taput Mengurangi Resiko Kematian Dampak Penyebaran Covid-19.

KBRN, Medan: Kaum Milenial Indonesia (KAMI) Wilayah Tapanuli Utara (Taput) menggelar webinar dengan mengangkat thema 'Menakar Kesiapan Fasilitas Kesehatan dan Kecepatan Vaksinasi Massal di Tengah Perang Melawan Pandemi di Tapanuli Utara' pada Senin, 2 Agustus 2021.

Webinar tersebut dihadiri oleh narasumber-narasumber yang berkompeten di bidang kesehatan seperti Brigjen TNI (Purn) dr. Alex Kaliaga Ginting, Sp.P F.C.C.P selaku Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 RI, dr. Janri Aoyagie Nababan, M.M selaku Direktur RSUD Tarutung, Alexander G P Gultom, S.KM, M.KM selaku Kepala Dinas Kesehatan Tapanuli Utara dan penanggap webinar dr. Muhamad Fajri Adda'i yang bertugas sebagai Praktisi Kesehatan dan Dokter Relawan Covid-19. 

Webinar ini dipandu oleh Lied Apriani Pane, S.Kep, Ners ASN di Politeknik Kesehatan Kemenkes RI. Kegiatan langsung dibuka Zoom Meeting Apps dengan kata pembukaan oleh Ketua Kaum Milenial Indonesia Wilayah Tapanuli Utara Doni Rahmadi Butar-Butar dan Bupati Tapanuli Utara yang diwakili oleh Sekda Kabupaten Tapanuli Utara, Drs. Indra Simaremare, M.Si.

Dalam sambutannya, Bupati Taput yang diwakili oleh Sekda Tapanului Utara menyampaikan pesta adat merupakan cluster penyebaran Covid-19.

"Terimakasih untuk kesempatan yang diberikan oleh adik-adik Kaum Milenial Indonesia Tapanuli Utara dalam hal ini kepada Pemkab Taput memberikan gambaran terkini kondisi covid-19 di Taput dan esiapan fasilitas kesehatan dan tingkat keberhasilan vaksinasi di Tapanuli Utara. Untuk cluster penularan yang paling banyak di Tapanuli Utara itu adalah dari cluster pesta-pesta adat. Dan untuk saat ini kami meniadakan pesta-pesta adat di Taput," tegasnya.

"Pemerintah sudah menyiapkan APBD Penanganan dan Penanggulangan Wabah Covid-19 di Tapanuli Utara sampai ke desa-desa dan kelurahan. Harapan kami juga, adik-adik Kaum Milenial Indonesia agar turut mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat tentang covid 19 dan mendukung kesuksesan Vaksinasi di Tapanuli Utara serta membantu agar masyarakat tidak mudah percaya kepada berita hoaks atau berita bohong", ungkapnya.

Pada kesempatan sesi pemaparan materi, Kepala Dinas Kesehatan Taput Alexander Gultom, S.KM, M.KM menyampaikan bahwa di bulan Juli 2021 angka terkonfirmasi kasus positif covid-19 di Tapanuli Utara sebanyak 1.062 kasus, naik dari sebelumnya di bulan juni di angka 362 kasus. 

"Untuk akumulasi kasus sampai pada 31 Juli 2021 adalah sebanyak 3.550 kasus. Angka kesembuhan 3.213 orang dinyatakan sembuh, fatality case/ kasus meninggal sebanyak 61 orang dan kasus aktif per 31 Juli 2021 adalah sebanyak 276 orang. Sementara untuk capaian tingkat keberhasilan vaksin untuk vaksinasi dosis 1 sudah di angka 42.756 warga yang divaksin, sementara untuk vaksinasi yang sudah sampai pada dosis 2 adalah sebanyak 18.911 warga yang divaksin dari target sasaran 212.583 orang penerima vaksin", jelasnya. 

Sedangkan fasilitas RSUD untuk penanganan Covid-19 terdiri dari ruang transisi sebelum tegak diagnosa, ruang isolasi bertekanan negatif, ruang isolasi bangsal, ruang ICU khusus covid-19, ruang operasi khusus covid-19, pemeriksaan PCR dan Laboratorium BSL-2 dengan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).

"Kami sudah melakukan berbagai upaya seperti penguatan kapasitas Nakes dalam melaksanakan 3T, kerjasama dengan PMI Medan untuk pengadaan plasma konvalesen (dalam proses), sosialisasi dan himbauan PHBS, pembagian masker, multivitamin, wedang jahe dan memenuhi kebutuhan pendukung untuk pencegahan dan penanganan covid-19. Kami dari Dinas Kesehatan juga berharap agar distribusi vaksin dapat berjalan dengan baik dan segera terpenuhi kebutuhan jumlah vaksin untuk Taput", papar Alex.

Sementara dr. Janri Aoyagie Nababan, M.M selaku Direktur RSUD Tarutung menyampaikan bahwa RSUD Tarutung memiliki 77 bed untuk merawat pasien covid-19.

"Peningkatan layanan Covid RSUD Tarutung 2021 terus dilakukan seperti pengaktifan TCM sebagai laboratorium pemeriksaan covid-19, orientasi calon relawan, pelatihan dan workshop covid 19, baik melalui inhouse training maupun melalui zoominar," tuturnya.

"Kita patut bersyukur dan berterima kasih atas kepedulian Bapak Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M.Si karena atas perhatian dan kepeduliaan beliau dalam menanggulangi wabah covid-19. RSUD Tarutung telah memiliki tambahan ruangan yang telah selesai dibangun dan diresmikan pada Mei 2020 lalu yang diberi nama ruangan munson dan lyman", jelas Janri.

Brigjen TNI (Purn) dr. Alex Kaliaga Ginting menyampaikan dalam webinar bahwa perkembangan kasus Covid-19 secara nasional per 25 Juli 2021 terjadi trend penurunan sebesar 17,5% dibandingkan pekan sebelumnya, sedangkan angka kesembuhan secara nasional per 25 Juli 2021 di angka 79,25%, atau turun 12,97% dibandingkan angka kesembuhan puncak di bulan Mei 2021 yaitu 92,22%. 

Sementara angka positivity rate meningkat dua kali lipat dari bulan Mei ke Juni yaitu dari 10.72% ke 20,01% dan positivity rate di bulan Juli mencapai angka 28,02 dan kasus aktif hingga 25 Juli 2021 sebanyak 573.908, sementara jumlah kasus meninggal hingga per 25 Juli 2021 sebesar 83.279.

dr. Alex Kaliaga Ginting juga menyampaikan bahwa angka Keterpakaian Tempat Tidur (Bed Occupancy Rate) di Rumah Sakit per 25 Juli 2021 dimana 13 provinsi memiliki Bed Occupancy Rate (BOR) diatas atau sama dengan 70%, 15 Provinsi memiliki BOR 50,01 - 69,9% dan 3 Provinsi memiliki BOR dibawah 50%. 

Di Kasus Mingguan per 25 Juli 2021, Provinsi Sumatera Utara berada di posisi urutan ke empat dari top 5 jumlah trend kenaikan kasus tertinggi dengan persentase kenaikan 26,9% dengan jumlah kasus 7.528 disusul Provinsi Jawa Tengah di urutan kelima, sementara di posisi atas kenaikan kasus adalah provinsi Kalimantan Selatan, Bali dan Nusa Tenggara Timur. 

Sementara Top 5 provinsi dengan jumlah kasus tertinggi per tanggal 25 Juli 2021 adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. 

Untuk pasien penderita covid-19 dengan gejala ringan boleh isolasi mandiri di rumah dengan catatan maksimal jumlah penghuni di rumah maksimal 5 orang dan harus lapor ke RT atau Kepala Desa. Penderita Covid-19 juga pada saat Isolasi Mandiri harus selalu konsultasi ke dokter dan meminta resep dari dokter. Masyarakat harus mengembalikan kepercayaannya kepada tim medis, bukan kepada oknum yang tidak bertanggung jawab apalagi mereka yang menyebarkan berita hoax di sosial media, sementara untuk pasien covid-19 bergejala ringan yang ada komorbid (penyakit penyerta) obat-obat untuk komorbid juga harus ada dan selalu dikontrol oleh tim medis. 

"RSUD Tarutung dalam hal ini harus mempersiapkan fasilitas kesehatan yang memadai. Harapan kita juga agar Posko Covid-19 di Desa-Desa atau Kelurahan di Tapanuli Utara harus diaktifkan. Kaum Milenial harus bersinergi dengan Pemerintah dan mendorong terbentuknya posko covid-19 di desa-desa. Peran Bupati, Camat, Kepala Desa dan Lurah sangat penting dalam penanggulangan covid-19", tegasnya.

Selain itu menurut dr. Alex, PPKM harus bisa menggerakkan elemen-elemen masyarakat. Jika diperlukan, kepala desa juga harus berani melakukan Mikro lockdown khusus daerah tersebut. Bekerja sama dengan Babinsa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Kita juga harus tahu bahwa pemberlakuan PPKM Level 1 sampai 4 itu dilihat dari Bed Occupancy Rate (BOR, Kasus Aktif dan Kasus Kematian). PPKM Level 1 berarti Insiden rendah, Level 2 Insiden sedang, Level 3 : insiden tinggi, Level 4 : Insiden sangat tinggi.

"Untuk itu, saya berharap agar Tapanuli Utara segera membentuk dan mengaktifkan posko PPKM, mengaktifkan Satgas tracing, dan yang terakhir, walau sudah divaksin, kita harus tetap jalankan Protokol Kesehatan", tutup dr. Alex Kaliaga Ginting.

Di akhir webinar, penanggap dr. Muhamad Fajri Adda'i memberikan masukan agar Tapanuli Utara menggenjot proses vaksinasi karena vaksinasi terbukti efektif mengurangi kematian, dimana jumlah orang yang terpapar sangat kecil dibanding jumlah orang yang terlindungi, Case Fatality Rate (CFR) atau perbandingan orang yang meninggal dari total orang yang sakit juga menurun jauh, dan kebanyakan populasi yang sudah divaksin dan tetap terpapar, tidak bergejala atau gejala ringan. 

"Kita harus pakai masker sesuai Prokes karena varian Delta ini mampu membuat orang yang sudah pernah terpapar Covid19 bisa terpapar kembali, jadi Prokesnya harus dijalani dengan benar. Varian Delta resiko tertularnya 60 sampai dengan 100% dibandingkan varian sebelumnya. Jadi kita menghadapi Varian Delta tidak mudah karena sekian detik berinteraksi saja kita bisa tertular," ujarnya.

"Intinya, kita menghadapi Virus Covid19 yang lebih menular, yang lebih bahaya dan lebih infeksius, sementara angka kesadaran masyarakat Indonesia menurun. PPKM ini sepi di jalanan, tapi tinggi konflik di komunitas masyarakat. Konflik antara masyarakat Babinsa saja Satpol PP itu berulang-ulang terjadi ditampilkan di TV," tutup dr. Muhamad Fajri Adda'i dalam sesi menanggapi terkait topik webinar yang diangkat oleh KAMI Taput.(Moelkan Hasan)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00