Hari Berkabung Daerah ‘Mandor Berdarah’, Dampak Kekejaman Jepang

Mandor berdarah (rri medan)

KBRN, Medan: Berbicara soal mandor pasti sudah banyak yang tahu arti definisinya. Tapi apakah kalian tahu ada suatu kecamatan di Kalimantan Barat yang bernama Mandor.

Tidak jauh dari Pontianak, Mandor berbatasan langsung sebelah timur dari Ibukota provinsi Kalimantan Barat tersebut. Mandor dulunya masuk wilayah Kabupaten Pontianak namun kini sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Landak.

Hari ini Selasa 26 Juni 2022 tepatnya di 77 tahun lalu, Daerah Mandor ini pernah jadi saksi atas pembantaian ribuan orang oleh tentara Jepang. Peristiwa yang kemudian dinamakan dengan Peristiwa Mandor ini menjadi salah satu kisah kelam dalam sejarah penjajahan Jepang di Indonesia.

Pembantaian massal ini menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Tercatat lebih dari 20.000 orang menjadi korban keganasan Jepang di wilayah Mandor dan sekitarnya.

Bahkan ada keterangan yang menyebutkan target penangkapan yang direncanakan sebenarnya sejumlah 50.000 orang namun belum terlaksana secara maksimal dikarenakan saat itu Jepang kalah atas Sekutu. Para korban pembunuhan bala tentara Jepang ini juga melebar sampai seluruh Kalimantan Barat.

Namun memang yang paling banyak terjadi di wilayah Mandor. Sebagaimana diketahui Jepang menaruh curiga kepada para pemimpin Sultan dan Panembahan di Kalimantan Barat sehingga setidaknya ada 12 korban dari kalangan tersebut, antara lain:

1. Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak)

2. Gusti Muhammad Thaufik Aqamaddin (Panembahan Mempawah)

3. Sultan Muhammad Ibrahim Tsafioedin (Sultan Sambas)

4. Gusti Abdul Hamid (Panembahan Ngabang)

5. Gusti Saoenan (Panembahan Ketapang)

6. Tengku Idris (Panembahan Sukadana)

7. Gusti Mesir (Panembahan Simpang)

8. Ade Muhammad Arief (Panembahan Sanggau)

9. Gusti Djafar (Panembahan Tayan)

10. Gusti Kelip (Panembahan Sekadau)

11. Raden Abdulbahri Danu Perdana (Panembahan Sintang)

12. Syarif Saleh Al-Idrus (Panembahan Kubu)

Bahkan Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ditangkap bersama ketiga anak laki-lakinya dan kerabatnya. Sekitar 30 anggota kerabatnya turut menjadi korban.  Korban dari Sultan dan Panembahan tersebut akhirnya menimbulkan dampak terganggunya pemerintahan feodal lokal di seluruh Kalimantan Barat.

Dampak keganasan Jepang juga menimbulkan luka yang mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat. Banyak anggota keluarga dan kerabat yang terbunuh, tak jarang banyak anak kecil sudah menjadi yatim piatu.

Dampak dari peristiwa ini juga hilangnya kaum cendikiawan sehingga membuat daerah ini kehilangan generasi orang-orang terpelajar dan berpengaruh. Beberapa di antaranya dari kalangan tenaga kesehatan, pengajar, jaksa, operator radio dan tokoh politik.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar