Mengenal IBI di Hari Bidan Nasional 2022

Hari Bidan Nasional 2022 (rri medan)

KBRN, Medan:  Jumat, 24 Juni 2022 merupakan peringatan Hari Bidan Nasional.  Peringatan tersebut berdasarkan tanggal terbentuknya Ikatan Bidan Indonesia (IBI). 

Pada peringatan Hari Bidan Nasional tahun 2022, dan HUT IBI  yang genap berusia 71 tahun, usia yang sangat matang dengan banyak pengalaman yang sudah dilalui sebagai organisasi profesi. rri.co.id merangkum dari berbagai sumber tentang sejarah Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Lahirnya IBI sebagai tanda dari Peringatan Hari Bidan Nasional.

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) adalah organisasi profesi berbentuk kesatuan, bersifat nasional, berazaskan Pancasila yang bertujuan antara lain menggalang persatuan dan persaudaraan antara sesama Bidan serta kaum wanita pada umumnya dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa. Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Anak serta kesejahteraan keluarga.

Mengutip dari lama resmi PKBI DIY, pada awal IBI didirikan, sejarah organisasi ini berada dalam naungan organisasi wanita bernama KOWANI, dan lima tahun selanjutnya yakni pada 1956 IBI resmi menjadi anggota International of Midwaves (ICM). Di kancah internasional, IBI kerap aktif berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan terutama kongres ICM maupun kongres ICM Regional Asia Pasific (Aspac).

IBI didirikan pada tanggal 24 juni 1951 di Jakarta, merupakan penggabungan berbagai organisasi bidan didaerah-daerah. Pada 15 Oktober 1954 IBI diakui sebagai sebuah organisasi yang berbadan hukum dan tertera dalam lembaran Negara No. Y.A.5/ 927 (Departemen kehakiman). Pada tahun 1956

IBI diterima sebagai anggota ICM (International Confederation of Midwifes). Pada tahun 1985 dan 2000 IBI menjadi tuan rumah ICM meeting untuk kawasan Asia Pasifik.

Ada empat tujuan IBI yang dirumuskan pada konferensi bidan pertama yang diselenggarakan di Jakarta. Kegiatan itu merupakan prakarsa bidan-bidan senior yang berdomisili di Jakarta.

  1. Menggalang persatuan dan persaudaraan antar sesame bidan serta kaum wanita pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.
  2. Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta kesejahteraan keluarga.
  3. Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
  4. Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Adapun tokoh-tokoh yang tercatat sebagai pemrakarsa konferensi tersebut adalah: Ibu Selo Soemardjan, Ibu Fatimah, Ibu Sri Mulyani, Ibu Salikun, Ibu Sukaesih, Ibu Ipah dan Ibu S. Margua, yang selanjutnya memproklamirkan IBI sebagai satu-satunya organisasi resmi bagi para bidan Indonesia.

Gerak dan langkah Ikatan Bidan Indonesia di semua tingkatan dapat dikatakan semakin maju dan berkembang dengan baik. Sampai dengan tahun 2018, IBI telah memiliki 34 Pengurus Daerah, 509 Pengurus Cabang (di tingkat Kabupaten/Kota) dan 3.728 Pengurus Ranting IBI (di tingkat Kecamatan/unit Pendidikan/Unit Pelayanan).

Jumlah anggota yang telah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) 338.864 (Desember 2019), sedangkan jumlah bidan yang terdaftar di Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) ada 658.510 (MTKI, Agustus 2018).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar