Kominfo Larang 11 Data Ini Dibagikan di Media Sosial

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika sekaligus Wakil Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengingatkan masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan dalam mengelola data pribadi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Rabu siang (22/01/2020)

KBRN, Medan : Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan data sensitif kepada orang lain maupun media sosial. Setidaknya ada 11 jenis data yang dilarang untuk disebarluaskan.

“Kominfo tidak bosan mengingatkan semua untuk selalu menjaga data pribadi, khususnya di daftar ini,” kata kementerian melalui akun Instagram @kemkominfo, pekan lalu, dilansir, Senin (17/1/2022).

Jenis data yang dimaksud yakni:

1. Kode OTP atau one-time password

2. Nama panggilan masa kecil

3. Nama ibu kandung

4. Nomor telepon

5. Alamat rumah

6. Foto paspor / KTP / SIM

7. Tiket pesawat / kereta/ bus

8. Foto tanda apapun

9. PIN / Password apapun

10. Nomor kartu debit

11. Kode CVV atau tiga angka di belakang kartu debit

Nama panggilan masa kecil menjadi salah satu data sensitif, karena ada kasus dengan modus challenge Add Yours. Pada akhir tahun lalu, pengguna ramai membuat tantangan atau challenge Add Yours yang meminta pengguna lain menyebutkan usia, nama panggilan, nama ibu dan ayah hingga tanggal lahir.

Sebagai contoh kasus kejahatan, seorang pengguna Twitter @ditamoechtar melansir dari Kompassiana, menceritakan temannya mengaku ditipu dengan dimintai sejumlah uang ke rekening. Temannya langsung percaya karena pelaku mengetahui nama panggilannya saat kecil. Penipu memanggil temannya "Pim", yakni panggilan saat kecil yang hanya diketahui orang terdekat. Akhirnya temannya sadar tertipu saat ingat kalau pernah mengikuti challenge Add Yours yang meminta variasi panggilan nama.

Seorang peneliti Bernama Pratama dari Keamanan Siber Communication Information System Security Research Center (CISSReC) mengatakan lewat challenge Add Yours, pelaku kejahatan hanya perlu bertamasya di Instagram dan melihat pertanyaan dan jawaban yang terkait data pribadi. Pratama menegaskan kalau hal ini bisa jadi bahan profiling untuk modal melakukan kejahatan.

Para pelaku kejahatan ini bisa melihat jawaban akun lain dalam challenge Add Yours meski belum berteman. Beberapa informasi yang bisa digunakan untuk profiling antara lain: tanggal lahir, nama ibu dan ayah, alamat, nama asisten rumah tangga (ART), nama panggilan dan data pribadi lainnya.

Peneliti ini juga menjelaskan bahwa fitur seperti Add Your memiliki manfaat sebagai hiburan, tetapi juga bisa berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Dirinya mengimbau para pengguna media sosial untuk waspada dan tidak memberikan data pribadi kepada siapapun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar