Rela Gadai Motor Untuk Harumkan Nama Dompu

Saat datang di GOR Halim Perdana Kusuma disambut Petinggi TNI Angkatan Udara.jpg
Medali Perak : Sahwan bersiap-siap mendapat medali perak dalam ajang Kejurnas MMA di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.jpg
SINGA LAPAR :detik-detik Sahwan, saat beraksi membuat KO lawannya asal Kaltim dalam ajang Kejurnas IBA MMA di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.jpg
Sahwan saat pose bersama dengan juara-juara dalam kelasnya, seusai mendapat medali.jpg

KBRN, Dompu : Siang yang terik, tidak membuat Sahwan (22), Atlet Indonesia Bela Diri Amatir Mixed Martial Art (IBA MMA),  berhenti latihan. Barbel yang terbuat dari semen dan sansak seadaanya, menjadi alat latihan Sahwan, setiap hari. Tidak hanya menggunakan barbel, untuk melatih otot kaki dan tangannya, sesekali Sahwan lari dengan memanggul ban mobil bekas, di anak tangga sepanjang 100 meter dan lari diatas air. Bulan kolam renang, namun sungai kecil yang ada di Raba Baka dan sungai Laju, menjadi latihan Sahwan.

"Itu saya lakukan setiap hari. Setiap harinya berbeda sih metode latihannya, tergantung apa program dari pelatih," katanya, saat ditemui disela-sela latihan, Minggu (14/8/2022). 

Maklum, pada November mendatang, Sahwan yang tergabung dalam Sasana Putra Bada Dompu, akan kembali membawa nama harum, Dompu dalam ajang Porpov di Kota Mataram. Sebelumnya, Sahwan terpilih untuk mewakili Nusa Tenggara Barat dalam Kejurnas IBA MMA di Jakarta dan berhasil mendulang perak.

Siapa sangka, Sahwan yang lahir 12 Oktober 2000, merupakan atlet andalan Cabor yang tergolong baru di daerah berjuluk "Nggahi Rawi Pahu", adalah juara nasional yang di gelar di Jakarta, 1-4 Agustus 2022. Tidak hanya di Kejurnas, Sahwan juga merupakan satu dari 15 atlet yang mampu membawa nama harum Dompu, dalam Kejurda NTB. 

"Saat itu saya berhasil mempersembahkan emas di Kejurda," katanya.

Ternyata ada cerita miris Sahwan, saat berangkat mengikuti Kejurnas di Jakarta. Transport keberangkatan dari Dompu dan uang saku selama di Jakarta, tak sepeserpun di pegang. Namun keinginan kuat untuk berprestasi membawa nama harum Dompu dan NTB, apapun dilakukan. Sahwan harus rela melepas motor peninggalan almarhum ayahnya, untuk di gadai.

"Motor peninggalan almarhum ayah saya, saya gadai sebesar Rp. 4 juta," tambahnya.

Untungnya, dukungan dari sang ibu dan keluarga yang lain, kuat. Meski tidak ada dukungan dari Pemerintah Daerah dan Koni, sebagai induk olah raga, sang ibu mengikhlaskan motor satu-satunya peninggalan suaminya, di gadai. Apapun akan dilakukan ibunya, agar anaknya berhasil.

"Ibu saya hanya ingin melihat saya mampu dan berprestasi. Soal motor, itu urusan nanti. Yang penting, kata ibu, saya harus bisa berangkat ikuti Kejurnas," ceritanya.

Diajang Kejurnas, dari 5 kali bertanding, 4 diantaranya menang KO, satu kalah point. Apresiasi dari Ketua Pengda IBA MMA NTB, ElyaWibawa Syarifoeddin dan Ketua Koni NTB, Mori Hanafi, atas prestasi yang diraih  Sahwan. Namun, tidak yang dilakukan Koni, Pemkab Dompu. Saat kepulangan seusai mengikuti Kejurnas IBA MMA, jangankan bonus, penyambutan Pahlawan olah raga ini, tidak dilakukan. Pejuang yang mampu membawa nama Dompu di Kancah Nasional itu, bak orang yang baru pulang dari bepergian. Tidak ada seremoni atas kedatangan pahlawan daerah ini, layaknya atlet-atlet lain yang bernaung di bawah Cabor yang dekat dengan kekuasaan.

"Target saya kedepan, harus bermain profesional. Namun, jika daerah membutuhkan dalam ajang baik kejurda maupun kejurnas, saya tetap siap," katanya.

Agus Bedel, pelatih IBA MMA Pencab Dompu, mengakui talenta Sahwan, diketahui saat masih menjadi pelatih tinju. Memang di akui, pria yang dalam kejurnas IBA MMA di Lapangan Halim Perdana Kusuma, Jakarta turun di kelas 55 kg ini, memiliki background tinju. Tehnik bermain, lanjut Agus, di pelajari Sahwan secara otodidak.

"Saya hanya memoles pada gerakan bawah saja. Untuk pukulan atas, sudah terbantuk saat menekuni olah raga tinju," ceritanya.

Mantan pelatih tinju ini, juga turut menyaksikan perjuangan Sahwan pergi Ke Jakarta. Sebagai pelatih, Agus tidak hanya bertugas sebagai pelatih, namun juga sebagai manager. Agus mencoba mendekati Ketua Pengcab IBA MMA Dompu, Muhammad Ihsan, untuk bisa membantu. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil. 

Tidak patah semangat, Agus akhirnya mengirim proposal ke Koni Dompu, untuk meminta bantuan. Namun proposal itu ditolak, karena dianggap tidak memenuhi persyaratan. Tanda tangan Pengcab IBA MMA Dompu, menjadi ganjalan Koni tidak bisa mengeluarkan anggaran untuk membantu. Agus juga mencoba mencari bantuan dari pemilik toko di wilayah Keluaran Bada, dimana Sasananya  berdiri. Namun baru beberapa toko didatanginya, rasa malu Agus terbesit. Sebab, untuk membiayai Atlett yang akan membawa Dompu ke kancah nasional, harus meminta belas kasian orang lain.

"Sempat jalan sih, tapi karena ada rasa malu dan harga diri, akhirnya saya batalkan," katanya. 

Agus mengakui Sahwan merupakan atlitnya yang tidak banyak bicara. Seberat apapun latihan fisik yang di berikannya, dijalani dengan sepenuh hati. Namun, sikap Sahwan berubah dratis, saat berada di atas ring. Sahwan yang dikenal kalem dan tidak banyak bicara, mendadak menjadi singa lapar. Tak heran, dalam kerjurnas IBA MMA di Jakarta, 4 dari 5 lawannya, dibuat KO sebelum pertandingan usai.

Agus berharap, Pemerintah Daerah, untuk peduli terhadap atlet berprestasi Dompu, termasuk Sahwan. Sebab akibat ingin mengharumkan nama daerah dalam kancah nasional melalui olah raga, kini hidupnya sedikit kesulitan. Motor satu-satunya harta yang dimiliki, belum bisa sitebusnya. Bantuan yang diharapkan Agus dan Sahwan, yakni Pemerintah daerah, untuk bisa menebus motor yang di gadai. Sebab, motor itu, merupakan motor satu-satunya untuk mencari nafkah. Sebab, hingga saat ini, Sahwan tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga motor peninggalan orang tuanya itu, digunakan untuk membantu mencari nafkah untuk keluarganya.

"Temasuk motor saya juga ikut digadai, demi anak asuh saya berhasil," tambahnya.

Agus menceritan, untuk berangkat ke Jakarta, hanya mengantongi uang sebesar Rp 6 juta. Uang itu didapat dari hasil gadai motor milik Sahwan dan motornya serta mendapat bantuan secara Pribadi dari Ketua Pengcab IBA MMA, Muhammad Ihsan.

Dengan uang yang sangat minim ini, selama kejuaraan Sahwan dan Agus Bedel, harus benar-benar mengkencangkan ikat pinggang. Pemenuhan gizi Sahwan, agar lebih prima, tidak pernah di  berikan. Sebab, jika harus dilakukan, maka uang yang sangat minim itu, tidak akan cukup untuk kebutuhan selama di Jakarta.

"Jadi kami harus lebih hemat. Untungnya ada Ibu Imelda, Pengurus Pengda IBA MMA NTB yang turut mendampingi sehingga, kami bisa bertahan hidup di Jakarta," ksahnya.

Agus yang semula merupakan pelatih tinju ini, banting setir ke IBA MMA, akibat prihatin dengan kondisi lingkungannya. Bagaimana tidak, sebelum Sasananya berdiri, kampungnya merupakan kampung yang dikenal dengan kampung Narkoba. Namun, selama 6 tahun ini, stigm itu mulai luntur.

"Anak-anak muda di kampung saya sekarang, setelah bergabung dengan sasana kami, jangankan narkoba, mencium asap rokok saja, sudah tidak mau," jelasnya.

Selama menangani IBA MMA, sedikitnya ada 20 orang di kampungnya ikut bergabung dengan Sasananya. Jumlah itu, yang ada di kampung dan kampung sekitar kediaman Agus. Jika untuk keseluruhan  atletnya, hingga saat ini mencapai 200 lebih dan tersebar di Kecamatan Kempo, Manggelewa, Dompu dan Woja. Dalam Poprov mendatang, IBA MMA Kabupaten Dompu akan turun di semua kelas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar