Tenun Untuk Materi Produk Bukan Pakaian di Pringgasela

KBRN, Mataram : Pemanfaatan kain tenun untuk materi sebuah produk oleh penenun di Desa Pringgasela, Lombok Tmur, dimulai sejak empat tahun ke belakang. Perpaduan terlihat unik di salah satu galeri yang dimiliki oleh Maliki, penenun di Pringgasela. 

Menurut Maliki, penyuka tenun punya kecenderungan  selalu ingin desain baru, mudah ditemukan, kemudian bisa langsung pakai. Dengan itu pula,  tenun tak lagi identik dengan pajangan, tapi siap pakai, seperti pada produk sepatu, tas, dan baju santai.

“Satu sepatu dapat dikerjakan oleh empat orang. Sedangkan baju dikerjakan oleh dua orang. Namun, tenun bisa dikerjakan 105 orang untuk tetap dapat berproduksi atau menerima pesanan”, kata Maliki kepada rri.co.id, Sabtu (12/6/2021) di Galeri Sentosa Sasak Tenun, Pringgasela. 

Maliki menyatakan, penyuka sepatu tenun adalah warga di Amerika. Suka karena bernuansa etnik, dan adalah kerajinan tangan.

“Untuk jadi sepatu, perajin memerlukan waktu sehari. Pengerjaan sepatu dibagi ke dalam tiga profesi yakni desainer, dan tukang jahit”, ungkap Maliki. 

Maliki mengatakan, perpaduan tenun dan sepatu masih mengandalan impor atau bantuan Usaha, Kecil Menengah, dari luar Nusa Tenggara Barat. Situasi itu karena ketersediaan bahan semisal karet sol sepatu tidak diproduksi di NTB.

Hanya saja, Maliki berharap, permintaan dapat kembali normal. Masalahya, setelah gempa Lombok Utara tahun 2018, dan pandemi Covid-19 tahun 2020, permintaan jauh merosot jumlahnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar