Hotel di Mataram Ini Enggan Naikkan Tarif Berlebihan Saat MotoGP Mandalika

KBRN, Mataram : Salah satu hotel yang enggan menaikkan tarif berlebih saat gelaran MotoGP maret mendatang adalah Hotel Bidari di Kota Mataram. Hotel ini patut menjadi contoh ditengah sebagian hotel beramai ramai menaikkan tarif tidak wajar menghadapi event akbar tersebut. 

Bahkan kenaikan tarif berlebih ini menjadi perbincangan hangat dikalangan pelaku pariwisata didaerah. Disisi lain asosiasi hotel menganggap hal ini wajar, disisi lain pelaku pariwisata menganggap upaya tersebut justru akan merugikan parwisata NTB.

Gede Gunanta, pemilik hotel bidari yang juga Wakil Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, mengaku tidak memungkiri tingginya harga kamar hotel saat MotoGP ini menjadi sorotan publik. Bahkan persoalan ini juga menjadi salah satu yang menjadi pembahasan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PHRI NTB beberapa waktu lalu.

Dia juga mengaku tidak mengambil keuntungan hotel secara berlebihan, saat Lombok sebagai tuan rumah perdana penyelenggaraan balap motor tersebut dan justru memilih kenaikan tarif yang wajar bagi wisatawan atau penonton MotoGP.

“Tetapi, apakah ada pemain, dari hotelnya, atau ada broker, saya ndak masuk kesana,” katanya.

Ditengah momentum saat ini, Gede mengatakan banyak korporasi yang ingin melakukan boking kamar dalam beberapa hari dengan tawaran harga menggiurkan. Namun managemennya memilih menolak, kebijakan itu dimanfaatkan oknum tersebut menjual kembali kamar hotel dengan tarif jauh lebih tinggi.

“Dari pada Lombok cidera karena tingginya tarif kamar hotel. Lebih baik kami tolak. Karena rate publish kami naikkan 30 sampai 35 persen,” ujarnya.

Borong kamar disetujui, apabila disepakati batas maksimal penjualan kamar oleh pihak kedua maksimal 15 sampai 20 persen.  atau besaran kenaikan tariff dari hotel dan pihak kedua maksimal 50 persen. lebih dari itu, Hotel Bidari menolak. Apalagi jika dijual kembali dengan kenaikan tariff 100 hingga 200 persen.

Wakil Ketua asosiasi Insan Pariwisata Indonesia (IPI) ini juga meyakini, meski kamar hotelnya tak diborong oleh pihak-pihak tertentu, saat MotoGP nanti dipastikan kamar-kamar hotelnya penuh.

“Karena semua butuh. Pasti tetap penuh. Kenapa harus merusak citra kita dengan menaikkan tariff tidak wajar. Entah siapa yang melakukannya. Toh juga tamu akan nyari hotel nanti,” imbuhnya.

Ia mengkhawatirkan, justru penonton MotoGP akan lebih memilih menginap di Bali dengan tariff hotel yang lebih rendah. Kemudian datang ke Lombok menonton MotoGP, hanya dengan menambah sedikit biaya menyeberang menggunakan kapal cepat. 

Karena itu, Gede Gunanta mengatakan, negara harus turun tangan. Mengingat, MotoGP di Indonesia ini tanggungjawabnya ada di negara. 

“Caranya turun tangan, lakukan investigasi kecil kecilan terhadp hotel-hotel yang dicurigai menaikkan tarif berlebihan dan surati. Karena tidak cukup hanya dengan imbauan-imbauan, tertibkan para spekulannya. Ini demi nama baik kita sebagai tuan rumah di mata dunia,” tutup Gede Gunanta.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar