NTB Alami La-Nina, Petani Jangan Coba Tanam Tembakau

KBRN, Mataram : Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun ini masih mengalami La Nina. Siklus iklim ini berdampak terhadap perubahan iklim di NTB yang relatif basah sepanjang tahun.

La Nina adalah fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Ketika La Nina terjadi, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Restu Patria Megantara, Koordinator bidang Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Lombok Barat yang dikonfirmasi RRI, selasa (24/5/2022) membenarkan jika La Nina masih akan terjadi hingga memasuki musim penghujan nanti.

"Kita kan memasuki La Nina ini sejak tahun 2020, dan sekarang daerah kita sudah memasuki musim kemarau, namun masih hujan. Jadi prediksi kami ini akan terjadi sepanjang tahun," kata Restu.

Menurutnya, kondisi iklim seperti ini akan sangat untuk sektor pertanian terutama tanaman pangan dan hortikultura. Hanya saja, La Nina dinilai tidak baik untuk tanaman tembakau yang biasa ditanam petani ketika memasuki musim kemarau.

"ini sangat baik untuk pertanian kita, tapi kalau untuk tembakau saya kira tidak pas ya kan kita tau tembakau ini kurang bagus kalau kena hujan." jelas Restu.

Untuk itu, petani diingatkan tentang potensi kerugian jika memaksakan diri menanam tembakau. Apalagi siklus La Nina terjadi secara merata diseluruh wilayah NTB.

Restu menambahkan, La Nina menyebabkan Provinsi NTB mengalami kemarau basah sepanjang tahun ini. Masyarakat diimbau untuk mengikuti perkembangan iklim BMKG terutama dalam menentukan pola tanam dan lain sebagainya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar