Refleksi Hari Perdamaian Internasional Dengan Berdamai Pada Diri Sendiri

KBRN,Manado: Pada tanggal 21 September 2021 diperingati sebagai Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace). Dilansir dari website United Nations, Majelis Umum PBB telah menyatakan hari ini sebagai hari yang didedikasikan untuk memperkuat cita-cita perdamaian, dengan menjalankan 24 jam non-kekerasan dan gencatan senjata.

Menebar kebaikan serta rasa damai  kepada sesama diharapkan dapat terwujud pada hari tersebut demi  kepentingan kemanusiaan. Namun dalam hal ini pula seharusnya dapat kita refleksikan sebagai wujud berdamai dengan diri sendiri. Dalam perjalanan hidup kita tentu nya pernah merasakan hal-hal yang tak menyenangkan seperti meninggalnya orang terdekat,, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, tuntutan kehidupan, putus cinta maupun sakit. Masalah selalu datang dan pergi silir berganti, hal tersebut dapat membawa perasaan sedih, sesal dan kecemasan yang cukup lama.

Segala konflik yang terjadi lama-kelamaan membuat diri kita stress, tak bahagia dan seolah-olah kita lah yang berperang dengan diri sendiri. Hal ini tentunya sangat buruk bagi kesehatan mental dan fisik kita karena dapat memicu depresi. Saat depresi sudah terjadi kita bisa saja kehilangan kemampuan bekerja, bermain dan bahkan mencintai.

Kita semua mungkin pernah mendengar istilah “Berdamai dengan diri sendiri”, kalimat yang cukup sederhana namun kenyataannya sulit untuk dipahami, apalagi diiplementasikan dalam kehidupan. Lantas, apa arti dari Berdamai dengan diri sendiri?

Diktutip dari Voi.id menurut Dr. Jiemi Ardian Sp. KJ, psikiater di RS Siloam Bogor, berdamai dengan diri sendiri bisa dipahami sebagai penerimaan akan kondisi saat ini. Berdamai dengan diri adalah sebuah proses dalam kehidupan. Kita harus menerima kenyataan, kelemahan dan kelebihan diri sendiri untuk berproses berdamai dengan diri sendiri. Dr. Jiemi pun mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki tugas untuk bertumbuh, bukan menjadi sempurna.

“Tidak ada yang pasti di masa depan dan tidak ada yang baru di masa lalu”.

Berdamai dengan diri sendiri dimulai dengan menikmati apa yang kita miliki saat ini. Hiduplah di masa sekarang dan berusahalah untuk terus tumbuh menjadi lebih baik selaras dengan tiga aspek penting, yaitu realita atau hal yang ada di depan mata, pikiran atau persepsi netral dan perasaan yaitu perpaduan antara pikiran dan persepsi.

Tertarik untuk mencoba berdamai dengan diri sendiri? Ini tanggapan serta cara berdamai dengan diri sendiri menurut persepsi masyarakat

-Menurut Gibran Hairudin, mahasiswa jurusan sosiologi

“Menurut saya berdamai dengan diri sendiri ialah tentang penerimaan sebuah kesalahan dan luka yang terjadi pada diri kita. Berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah puncak keikhlasan. Cara berdamai denagn diri sendiri : Konsisten dalam berpikir positif, pahami bahwa kecewa dan sedih merupakan hal yang manusiawi, jangan fokus pada penilaian orang lain terhadap diri kita”.

-Tanggapan dari Nurul Qalbiyyah Ma’ruf, lulusan S1 Farmasi

“Menurut saya berdamai dengan diri sendiri itu merupakan seperti seorang yang sangat mengenal kita dan juga bisa menjadi musuh kita, karena diri sendiri itu berada dalam diri kita maka ketika terjadi sesuatu yang membuat kita harus berdamai dengan diri kita sendiri, itu mungkin bagi beberapa orang itu hal yang sulit karena terkadang kita ingin menyangkal dari hal tersebut dan menurut saya untuk berdamai dengan diri sendiri itu mungkin kita harus ada keberanian untuk menghadapi masalah atau suatu yang sedang kita hadapi yang membuat pergolakan-pergolakan dalam diri kita, berani untuk menghadapinya. harus yakin dan percaya pada diri sendiri kalau kita itu bisa, itu intinya harus percaya sama diri sendiri. Karena bagaimanapun jika ingin berdamai dengan diri sendiri siapa lagi yang bisa membantu selain diri kita sendiri”

-Menurut Natanael Runtuwarouw, mahasiswa Unsrat

“Tanggapan dan cara saya tentang berdamai dengan diri sendiri menurut saya pribadi mungkin dengan memahami diri kita secara sepenuhnya dengan begitu kita bisa lebih mengenali dan kita bisa yakin terhadap diri kita sendiri dan selanjutnya mungkin lebih peduli dengan diri sendiri dalam artian kita juga harus menyayangi diri kita seperti kita menyayangi orang lain, dengan contoh kecil mungkin dengan pola hidup sehat itu termasuk dalam peduli dengan diri sendiri, yang ketiga adalah mungkin dengan menganggap rasa sedih dan kecewa itu adalah bagian dari hidup kita, karena rasa sedih dan kecewa dalam hidup kita pasti ada dan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita secara pribadi dan yang terakhir mungkin jalani kehidupan dengan enjoy atau nikmati saja jangan terlalu ambisius ataupun jangan terlalu perfeksionis, karena justru perfeksionis dan ambisius akan membuat kita menjadi lebih stress, menjadi lebih harus memiliki semacam acuan untuk bisa menjadi lebih baik tapi dalam konteks yang lebih ketat, dalam artian yang sangat sangat kompleks sehingga kita nantinya akan merasa capek ataupun lelah dengan diri kita sendiri.”

Dari berbagai tanggapan diatas dapat kita simpulkan bahwasanya berdamai dengan diri sendiri bukanlah hal mudah untuk dijalani namun sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Mulailah dengan percaya diri, kurangi rasa ragu serta kuatkan keyakinan, saat kita membuat kesalahan biarlah semua menjadi pembelajaran dan maafkan diri sendiri.

Cobalah melakukan hal-hal yang sebenarnya ingin kita lakukan serta membuang pikiran negatif tentang diri sendiri, berani menolak sesuatu yang tidak diinginkan. Pahami kapasitas dan batasan diri dengan melakukan sesuatu semampu kita, jangan memaksakan diri menjadi sesuatu karena sesungguhnya tak ada yang sempurna.

Berlarut-larut dalam kesalahan, kesedihan dan penyesalan hanya akan membuat kita tak bahagia. Sudahkah kamu berdamai dengan diri sendiri? (Anisa Muhammad).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00