Diiringi Kolintang , Pingkan Indonesia Kumandangkan Indonesia Raya di Gunung Klabat dan Danau Tondano

KBRN, Manado: Untuk memperingati HUT Proklamasi RI ke 75 Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pingkan) Indonesia menggelar Pengibaran Bendera Merah Putih dan Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Hari Merdeka  dengan iringan music Kolintang di puncak Gunung Klabat Kabupaten  Minahasa Utara dan di Danau Tondano Minahasa.

Ketua Harian  PINKAN Indonesia Joppie Rory menjelaskan di puncak Gunung Klabat (1990m) diiringi Sanggar Kolintang Fantastic Prima Vista Lembean Kecamatan Kauditan, sementara Sanggar Seni Budaya Benteng Moraya, Tondano Barat melakukan Parade Permainan Kolintang di Danau Tondano.

Dia menjelaskan kegiatan ini  merupakan  kerja sama dengan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara yang juga digelar Lomba  Kreatifitas Kolntang Virtual (LKKV).

“Yang dilombakan yaitu  terbanyak Like, Subscribe dan Viewer di Youtube Chanel milik PINGKAN,siapa yang terbanyak masuk 5 besar,”teranya.

Dalam lomba ini ada dua kategori yaitu Orginal yaitu semua alat music kolintang dan kategori melenial yaitu kolaborasi alat music lain. “Kegiatan ini berlangsung hingga 19 Agustus ,”ungkap Rory.

 Steve Tuwaidan Ketua Sanggar Fantastic Vista Lembean  menjelaskan tim yang melakukan pendakian pengibaran bendera dengan iringan music kolintang berjumlah 20 orang yang terdiri dari anggota grup kolintang termasuk grup-grup lain anggota komintasn Kolintang Sulawesi Utara.

“Animo masyarakat sangat tinggi mendukung kegiatan pengibaran bendera merah putih yang diiring music kolintang,”terang Steve Tuwaidan,Selasa(18/8/2020).

Ide ini muncul karena situasi pandemic covid 19  yang berdampak pada tidak ada aktivitasnya (lock down) grup kolintang , namun pihaknya tidak bisa menghentikan kretatifitas  dan tetap berhubungan pihak-pihak terkat untuk pengembangan music kolintang.

“Mengapa puncak Klabat yang menjadi tempat untuk bermain music karena menjadi guung tertinggi di Sulawesi Utara ,”tuturnya.

Saat menaiki puncak gunung mengalami tantangan karena biasanya mendaki hanya 6 jam sudah bisa sampai di puncak tapi kali  ini mencapai 12 jam.

“Perjalanan ke puncak sangat menantang dan melelahkan karena terjal kami mengalami kedinginan. Badai saat detik-detik proklamasi yang tentunya kami tidak putus asa dan tetap melaksanakan kegiatan ini,”lanjutnya.

Menariknya perangkat alat music kolintang  sebanyak 5 buah tidak dibawa pulang tapi ditinggalkan di puncak gunung sebagai atribut budaya dengan harapan ada motivasi dari pencinta-pencinta budaya terlebih generasi muda mencintai budaya daerah terutama kolintang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00